4 KECELAKAAN AKIBAT TERLALU BERNAFSU

Dikutip dari The Frisky, berikut ini empat kisah unik yang disebabkan terlalu bersemangatnya melakukan  hubungan seks;

1. Tuli Akibat Berciuman
Berciuman merupakan salah satu cara foreplay yang paling umum. Namun hati-hati, ciuman yang seharusnya membangkitkan gairah bercinta justru bisa menyebabkan bencana. Seorang wanita asal China harus dilarikan ke rumah sakit karena kehilangan pendengaran di telinga sebelah kirinya saat berciuman.

Ciuman yang terlalu bersemangat, bisa memecahkan gendang telinga. Penyebabnya, ciuman mengurangi tekanan pada mulut, sehingga menarik gendang telinga keluar dan mengakibatkan kerusakan pada telinga. Tuli karena berciuman, biasanya baru akan normal kembali setelah dua atau tiga bulan. Meskipun berciuman normalnya sangat aman, namun para dokter menyarankan untuk tidak terlalu memberi banyak tekanan saat melakukannya.

2. Kelumpuhan Karena Ciuman di Leher
Wanita asal New Zealand pernah dilaporkan datang ke rumah sakit dengan tangan yang lumpuh. Dokter yang memeriksanya lalu menemukan kalau dia mengalami stroke ringan karena ciuman di leher yang terlalu bersemangat dari pasangannya. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata ditemukan adanya gumpalan darah di pembuluh arteri pada leher sebelah kirinya. Hal tersebut disebabkan hisapan yang terlalu kuat, sehingga menimbulkan trauma fisik. Akibatnya, terjadi memar di dalam pembuluh darah.

3. Kondom Tertelan
Kondom yang seharusnya jadi ‘pengaman’ saat berhubungan seks pun bisa menimbulkan kecelakaan jika tidak digunakan secara benar. Seperti yang dialami seorang wanita di India, ia menderita batuk dan demam yang tak kunjung sembuh. Meskipun sudah diberi antibiotik dan obat, kondisinya itu terus berlangsung tanpa diketahui penyebabnya. Belakangan ditemukan, batuk dan demam misterius itu ternyata disebabkan oleh kondom yang bersarang di tenggorokannya selama enam bulan. Kondom terhisap saat dia melakukan oral seks, tanpa dia sadari.

4. Hilang Ingatan
Seorang wanita berusia 59 tahun asal Washington, tiba-tiba merasa kebingungan tanpa sebab dan tidak bisa mengingat apapun. Setelah dibawa suaminya ke rumah sakit, ternyata wanita tersebut didiagnosis terkena penyakit Transient Global Amnesia (TGA) dan penyebabnya adalah seks. Dikutip dari detikhealth, TGA merupakan penyakit hilang ingatan atau amnesia yang salah satu faktornya dipicu oleh hubungan seks.

Penyakit ini tidak menunjukkan gejala apapun. Namun gejala TGA biasanya muncul setelah melakukan aktivitas berat, seperti berhubungan seks, olahraga berlebih, membenamkan diri langsung dalam air dingin atau panas, melakukan pekerjaan berat atau bahkan mengguncangkan kepala. TGA memang termasuk penyakit langka, tapi sering terjadi pada pasangan tua.

Yang berlebihan emang ga baik.

Sungai Paling Terpolusi di India tiba-tiba menjadi ‘manis’

mumbai

2006, Air laut yang masuk ke Mumbai, tiba-tiba berubah rasa menjadi manis, dan fenomena ini di’temukan’ oleh beberapa penduduku Mumbai yang tiba-tiba merasakan air di Sungai Mahim Creek, salah satu sungai paling terpolusi di India, yang menerima ribuan ton limbah mentah dan limbah industri setiap hari-nya tiba-tiba menjadi manis. Selama beberapa jam, penduduk Gujarat mengatakan bahwa air laut di pantai Teethal juga berubah manis.

MithiRiver

Dewan Pengendali Polusi Maharashtra (The Maharashtra Pollution Control Board) telah mengeluarkan peringatan agar tidak ada penduduk yang meninum air yang ada, tapi tetap saja banyak orang mengumpulkan air tersebut dalam botol-botol, walaupun banyak sampah dan plastik yang ikut terhanyut dalam arus yang ada. Sekitar jam 2 pagi keesokan harinya, para penduduk yang berjaga mulai mengakui bahwa air yang tadinya manis berubah asin kembali.

Sekte Pemuja Setan

Posted: Juli 18, 2012 in Hot News

Sekte Pemuja Setan

Sepanjang tahun 1980-an dan awal 1990-an skandal pelecehan seksual terhadap anak-anak menggemparkan Amerika. Sejumlah korban mengaku bahwa telah diperkosa, disiksa, dan dilecehkan oleh orang-orang dewasa dari sebuah sekte agama, dan media memberitakan pengakuan-pengakuan sensasional ini. Para korban bahkan dengan tegas mengatakan, apa yang dilakukan orang-orang itu terhadap mereka adalah terkait dengan kegiatan satanisme atau pemujaan setan. Puncak dari skandal ini adalah saat tayangan perdana talk show bertajuk Geraldo yang dibawakan oleh Geraldo Rivera, penggagas acara tersebut, yang menyajikan tema khusus berjudul Epidemic of Satanic Ritual Abuse atau Epidemi Penyalahgunaan Ritual Pemujaan Setan. Dalam tayangan pada 1987 ini, pembawa acara keturunan Yahudi yang juga berprofesi sebagai reporter dan pengacara itu menyatakan, diperkirakan ada lebih dari 1 juta pemuja setan di Amerika. Mayoritas dari mereka adalah anggota dari sebuah organisasi yang dikelola dengan sangat terorganisir dan sangat rahasia.

“Mereka berasal dari kota-kota kecil hingga kota besar, dan apa yang mereka lakukan telah menarik perhatian polisi dan FBI karena kasus-kasus pelecehan seksual yang mereka lakukan terhadap anak-anak, ritul terhadap setan yang mengerikan, pornografi anak, dan pembunuhan. Mungkin ini juga terjadi di kota Anda,” jelasnya.

Pada 1992 kepolisian Amerika mendapat laporan tentang telah terjadi pembunuhan, kanibalisme, dan penculikan anak yang terkait dengan ritual agama, namun setelah melakukan penyelidikan, agen FBI Kenneth Lanning menyimpulkan bahwa laporan itu hanya desas-desus yang tidak berdasar. Phillips Stevens, Jr., Ketua Asosiasi Guru Besar Antropologi dari State University of New York di Buffalo menegaskan, informasi tanpa bukti yang tersebar luas di masyarakat tentang adanya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh para pemuja setan, tak lebih dari “penglembagaan hoax (kabar bohong) terbesar yang dilakukan atas rakyat Amerika di abad dua puluh”.

Misteri Ilmu Pengleakan

Posted: Juli 18, 2012 in Hot News

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti? Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri.

Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu.

Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali.
Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.

Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya. Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar. Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari.

Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.

Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis. Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam.

Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut.

Mengapa ditempat angker?
Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.

Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara.
Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya.

Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya. Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam. Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam.

Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.

Ilmu leak tidak menyakiti.
Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas.Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas. Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.

Leak Shoping di Kuburan
Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).

Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
- Si adalah mencerminkan Tuhan
- Wa adalah anugrah
- Ya adalah jiwa
- Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
- Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut.

Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut. Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih.

Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.

Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.

Begini bunyi doa leak memberikan berkat : “ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah”. Sambil membawa kelapa gading untuk dipercikan sebagai tirta. Nah, di sinilah ada perbedaan pandangan bagi orang awam. Dikatakan bahwa leak ke kuburan memakan mayat, atau meningkatkan ilmu.

Kenapa harus di kuburan? Paham leak adalah apa pun status dirimu menjadi manusia, orang sakti, sarjana, kaya, miskin, akan berakhir di kuburan.

Tradisi sebagian orang di India tidak ada tempat tersuci selain di kuburan. Kenapa demikian? Di tempat inilah para roh berkumpul dalam pergolakan spirit. Di Bali kuburan dikatakan keramat, karena sering muncul hal-hal yang menyeramkan. Ini disebabkan karena kita jarang membuka lontar tatwaning ulun setra.

Sehingga kita tidak tahu sebenarnya kuburan adalah tempat yang paling baik untuk bermeditasi dan memberikan berkat doa. Sang Buda Kecapi, Mpu Kuturan, Gajah Mada, Diah Nateng Dirah, Mpu Bradah, semua mendapat pencerahan di kuburan.

Di Jawa tradisi ini disebut tirakat.
Leak juga mempunyai keterbatasan tergantung dari tingkatan rohani yang dipelajari. Ada tujuh tingkatan leak.

- Leak barak (brahma). Leak ini baru bisa mengeluarkan cahaya merah api.
- Leak bulan,
- leak pemamoran,
- leak bunga,
- leak sari,
- leak cemeng rangdu,
- leak siwa klakah. Leak siwa klakah inilah yang tertinggi. Sebab dari ketujuh cakranya mengeluarkan cahaya yang sesuai dengan kehendak batinnya.

Setiap tingkat mempunyai kekuatan tertentu. Di sinilah penganut leak sering kecele, ketika emosinya labil. Ilmu tersebut bisa membabi buta atau bumerang bagi dirinya sendiri. Hal inilah membuat rusaknya nama perguruan.

Sama halnya seperti pistol, salah pakai berbahaya. Makanya, kestabilan emosi sangat penting, dan disini sang guru sangat ketat sekali dalam memberikan pelajaran. Selama ini leak dijadikan kambing hitam sebagai biang ketakutan serta sumber penyakit, atau aji ugig bagi sebagian orang.

Padahal ada aliran yang memang spesial mempelajari ilmu hitam disebut penestian. Ilmu ini memang dirancang bagaimana membikin celaka, sakit, dengan kekuatan batin hitam. Ada pun caranya adalah dengan memancing kesalahan orang lain sehingga emosi. Setelah emosi barulah dia bereaksi.

Emosi itu dijadikan pukulan balik bagi penestian. Ajaran penestian menggunakan ajian-ajian tertentu, seperti aji gni salembang, aji dungkul, aji sirep, aji penangkeb, aji pengenduh, aji teluh teranjana. Ini disebut pengiwa (tangan kiri). Kenapa tangan kiri, sebab setiap menarik kekuatan selalu memasukan energi dari belahan badan kiri.

Pengiwa banyak menggunakan rajah-rajah (tulisan mistik). Juga pintar membuat sakit dari jarak jauh, dan dijamin tidak bisa dirontgent di lab. Yang paling canggih adalah cetik (racun mistik). Aliran ini bertentangan dengan pengeleakan. Apabila perang, beginilah bunyi mantranya, ong siwa gandu angimpus leak, siwa sumedang anundung leak, mapan aku mapawakan segara gni…bla…bla.

Ilmu Leak ini sampai saat ini masih berkembang karena pewarisnya masih ada, sebagai pelestarian budaya Hindu di Bali dan apabila ingin menyaksikan leak ngendih datanglah pada hari Kajeng Kliwon Enjitan di Kuburan pada saat tengah malam.

 

Komodifikasi Tubuh Perempuan

Posted: Juli 18, 2012 in Hot News

Ketika iklan televisi dengan gencar mengampanyekan cantik sebagai kulit putih-mulus, rambut lurus, postur tubuh tinggi semampai, ideologisasi sesungguhnya sedang terjadi di sana. Di sisi lain, tak bisa ditampik bahwa penggunaan “tubuh perempuan” dalam iklan guna melariskan suatu produk, dari sudut pandang tertentu tak lain dan tak bukan adalah sebuah bentuk komodifikasi tubuh.

Ketika memperbincangkan “komodifikasi”—apa pun itu—sesungguhnya yang sedang diperbincangkan adalah suatu lembaga bernama industri. Dan, ketika industri diwacanakan, tak bisa tidak wacana harus menghujam ke sebuah ideologi besar yang mendasarinya, yakni kapitalisme. Maka, komodifikasi tubuh sesungguhnya juga merupakan anak kapitalisme.

Akhirnya, dalam segala wujud manifestasi kapitalisme, sebuah realitas selalu bisa ditunjuk: di sana ada segelintir elit yang akan mengeruk keuntungan dari suatu lembaga yang dinamakan pasar! Bagaimana ini bisa terjadi? Karena dalam industri budaya, elitlah pihak yang sesungguhnya menjadi penentu standarisasi, massifikasi, dan komodifikasi. Dalam konteks industri budaya sebagaimana yang tercermin dalam “pasar” layar kaca, di sana mereka juga sekaligus menjadi pemegang hegemoni atas selera, preferensi, dan gaya hidup!

I. Fenomena Madonna

Tahun 1980-an dunia entertainment terhentak seolah mendapatkan momentum baru ketika seorang Madonna tampil sebagai entertainer dengan genre yang melawan pakem yang selama itu ada. Sebagai seorang penyanyi dan artis, Madonna tampil dengan simbol-simbol tak lazim. Salah satunya: lirik-lirik lagunya nyerempet-nyerempet erotisme seksual. Lebih dari itu, ia pun dengan penuh percaya diri tampil dalam berbagai pose erotis. Sekonyong-konyong nama Madonna menjadi simbol baru dalam jagad hiburan. Itulah tonggak ketika “ketelanjangan” tubuh perempuan yang celakanya selalu diasosiakan dengan seks[1] mulai mengisi ruang-ruang publik yang bernama layar: mula-mula layar lebar kemudian merembet ke layar kaca. Sejak itu, terutama dalam pasar layar kaca, hukum permintaan dan penawaran menjadi satu-satunya pertimbangan logis penggunaan tubuh perempuan sebagai simbol seks tadi.

Tak pelak, para penganut feminisme pun terbelah ketika menyaksikan fenomena tersebut. Kubu yang satu bersepakat bahwa hadirnya Madonna dalam ekspresi erotisme tubuh sensualnya merupakan wajah sekaligus manifestasi real kebebasan kaum perempuan. Namun, di kubu yang lain tak kalah santer terdengar bahwa semua itu tak ubahnya semata-mata sebuah eksploitasi tubuh perempuan!

Apa pun reaksi yang menyusul tampilnya Madonna dengan kepercayaan dirinya itu, tak dapat disangkal bahwa gerak kelahiran industri entertainment dengan tubuh perempuan sebagai salah satu simbol utamanya telah merasuk ke dalam berbagai media hingga saat ini!

II. Televisi, Industri Budaya dan Komodifikasi Tubuh

Kajian baru pun muncul. Dikenallah apa yang disebut sebagai pendekatan budaya masa (mass culture) atau budaya populer (budaya pop) yang dipertentangkan secara diametris dengan pendekatan moralis yang secara spesifik merujuk pada budaya tinggi (high culture).

Dalam kajian para penganut pendekatan moralis, budaya massa adalah sebuah fenonema sosio-kultural yang senantiasa dicirii dengan seksualitas, erotisme, pornografi dan bersifat picisan. Karena itu, di antara budaya massa dan budaya tinggi terbentang sebuah tembok tebal tak tertembus di mana budaya massa dianggap sebagai budaya perusak moralitas, bernilai rendah dan picisan sementara budaya tinggi dianggap sebagai penjaga moral dan nilai-nilai luhur.

Sesungguhnya, kajian mengenai budaya massa memang tak mungkin dipisahkan dengan corongnya, yakni media, terutama media elektronik dan lebih khusus lagi televisi. Melalui televisi “desakralisasi” pertunjukan seni—apa pun itu—terjadi. Pertunjukan seni sebagai salah satu wujud kebudayaan (konser musik, tarian, juga film) yang dulunya bersifat ekslusif dan menjadi hak segelintir elit karena digelar di gedung-gedung pertunjukan atau gedung film; dengan hadirnya tabung kaca itu kini bahkan bisa dinikmati di ruang-ruang amat privat, yakni kamar tidur. Di situlah industri budaya mendapatkan konteksnya. Kebudayaan diproduksi secara massif, standar, dan tentu saja melalui proses komodifikasi.

Ihwal betapa high culture kerap kali menyerang budaya massa sebagai budaya murahan yang tanpa selera dan hanya bisa merusak moral, kita bisa mencermati sebuah contoh empiris, yakni perseteruan Inul Daratista dengan goyang ngebornya di satu pihak dan Rhoma Irama dan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dkk. di lain pihak. Sebagai artis yang berangkat dari “penyanyi kampung”, goyang ngebor tersebut sesungguhnya sejak lama telah menjadi ikon Inul. Dan, di kalangan pedangdut kampung, goyangan semacam itu—bahkan banyak juga yang lebih vulgar—merupakan hal yang lumrah. “Goyang erotis” biduanlah yang membuat sebuah pertunjukan dangdut di panggung-panggung kampung menjadi semarak. Bagi pertunjukan dangdut di panggung kampung, goyang erotis adalah bagian dari roh pertunjukan itu sendiri. Dan, sejauh itu, tak pernah ada ekses negatif yang terjadi. Kalaupun sesekali muncul ekses, eksesnya adalah tawuran yang sama sekali tak terkait dengan goyangan sang biduan. Dan, sejauh itu pula tak ada reaksi apa pun dari berbagai kalangan.

Akan tetapi, ketika “goyang ngebor” Inul tersebut diproduksi secara massal, yaitu ketika dibawa ke dalam layar kaca dan dengan mudah bisa dinikmati oleh berjuta-juta rumah tangga, ketika itulah Rhoma Irama dan sekutunya sebagai “simbol” pemegang budaya tinggi merasa perlu menegur atau bahkan mencekal Inul. Ketika itu pulalah pendekatan budaya massa (kali ini dengan ikon Inul) berbenturan dengan pendekatan moralis yang “diwakili” Rhoma Irama cs, terlepas dari apakah sesungguhnya Inul memang tidak lebih bermoral daripada Rhoma Irama.

Yang menjadi pertanyaan, dalam konteks ini, mengapa tubuh perempuanlah yang jauh lebih sering dijadikan objek komodifikasi dalam industri budaya tersebut? Lebih khusus lagi, dalam layar kaca, bagaimana bisa asosiasi seks semata-mata dilekatkan pada kemolekan tubuh perempuan?

Perhatikanlah iklan-iklan yang mempromosikan berbagai produk di televisi. Produk-produk yang sama sekali tak ada hubungan langsung dengan seksualitas pun direkayasa sedemikian rupa oleh si perancang iklan untuk diserempet-serempetkan pada seks yang—itu tadi—anehnya hampir selalu melibatkan bintang iklan perempuan. Iklan sebuah merek kacang, misalnya. Si bintang iklan perempuan diharuskan (oleh perancang iklan, tentunya!) menutup iklan itu dengan kalimat, “Ini kacangku” atau dalam versi yang lain, “Kacangku baik untuk suamiku”.

Siapa pun tahu bahwa produk kacang sama sekali tak punya kaitan langsung maupun tidak langsung dengan aktivitas seksual. Tetapi, mengapa harus muncul kalimat “Ini kacangku”? Apa kaitan kalimat “Ini kacangku” tersebut dengan produk yang sedang diiklankan? Sama sekali tidak ada kaitan. Kalimat itu muncul (lebih tepat: dimunculkan) semata-mata sebagai tag line agar konsumen terpatri dengan produk yang sedang diiklankan. Kalangan laki-laki (dan barangkali juga sebagian perempuan, tentunya) paham benar konotasi “kacang” ketika kata itu dilekatkan pada tubuh perempuan. Ia sudah bukan lagi “kacang” dalam makna denotatif, melainkan telah bemakna konotatif, yakni merujuk pada bagian tubuh perempuan yang paling privat. Apalagi, kalimat itu diungkapkan oleh si perempuan dengan nada, intonasi dan body language yang menguatkan konotasi tersebut.

Juga, iklan sebuah merek balsem merah. Dalam iklan itu diceritakan, si suami dipijit-pijit oleh sang istri. Sampai titik ini memang belum ada masalah. Sesuatu yang janggal muncul ketika sang suami harus melenguh-lenguh dengan gerakan bibir “menggoda” ketika di depannya lewat seorang perempuan dengan lenggak-lenggok tubuh yang juga menggoda. Apalagi di akhir iklan pun dimunculkan kata “hot…hot”. Tak perlu berpikir panjang, para lelaki pun dengan gampang mengasosiasikan lenguhan dan gerakan bibir itu dalam konteks seks. Pertanyaannya sama: apa hubungan lenguhan dan gerakan bibir “menggoda” itu—atau bahkan lebih jauh lagi sang perempuan yang berjalan berlenggak-lenggok dengan ekspresi wajah menggoda—dengan balsem?

Bila produk-produk yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan seks pun oleh perancang iklannya harus diserempet-serempetkan dengan seks, bisa ditebak seperti apa tampilan iklan untuk produk yang memang secara langsung terkait dengan hubungan seks. Untuk kepentingan ini, perhatikan saja lagu yang dinyanyikan sang bintang iklan perempuan dalam iklan kondom di televisi: “Ayo Abang…ayo digoyang,” dst.!

Tampaknya, komodifikasi tubuh perempuan yang secara khusus mengarah pada asosiasi seks, pertama-tama dan terutama disebabkan oleh cara pandang khas laki-laki. Arswendo Atmowiloto dalam sebuah tayangan infotainment mengemukakan, “60% tubuh perempuan itu seks, selebihnya adalah misteri!”. Seperti itulah, dalam sebuah dunia yang didominasi oleh perspektif kelaki-lakian, tubuh perempuan sebagian besar dipandang sebagai simbol seks. Celakanya, simbol itu tak pernah dikaitkan dengan konteks kepribadian sang perempuan secara keseluruhan dan utuh. Simbol-simbol itu semata-mata dilekatkan pada aktivitas erotisme-sensual. Artinya, dalam proses semacam itu sesungguhnya keperempuanan juga telah didistorsi sebegitu rupa. Justru karena itu, simbol-simbol tubuh yang ditampilkannya pun terbatas—tepatnya: sengaja dibatasi—pada wilayah-wilayah yang secara langsung mengarah pada konotasi erotisme seksual: bupati (buka paha tinggi-tinggi), sekwilda (sekitar wilayah dada), dan gerakan-gerakan atau lenguhan-lenguhan menggoda.

Pada celah itulah kapitalisme seolah memperoleh akses lebar untuk mendiktekan dirinya. Sebagaimana insting dasar lain yang ada dalam diri manusia selalu merupakan celah ampuh untuk masuk menawarkan suatu produk, insting seks pun tak luput dari bidikan para pengiklan. Di sisi lain, adalah sebuah realitas bahwa tubuh perempuan dalam dirinya sendiri merupakan simbol yang “enak dicerna” dan mudah menarik perhatian. Karenanya, dari sudut pandang industri kapitalis, komodifikasi tubuh perempuan memang merupakan pilihan yang secara ekonomis amat rasional.

Persoalannya, siapakah yang sebenarnya sangat diuntungkan dari proses komodifikasi semacam itu? Penonton, si bintang iklan, atau pemilik industri? Bagi penonton—mengikuti tesis Theodore W. Adorno—sesungguhnya manfaat semulah yang mereka peroleh. Mengapa? Komodifikasi tubuh dalam iklan di layar kaca pada dasarnya menyiratkan dominasi nilai tukar (exchange value) yang menggantikan nilai guna benda (use value). Ketika exchange value menggantikan use value, yang terjadi adalah nilai guna skunder (secondary use value) atau yang oleh Adorno disebut sebagai manfaat semu tadi. Oleh karena itu, sesungguhnya penonton yang jumlahnya berjuta-juta orang itu tak sedikit pun memperoleh manfaat. Si bintang iklan memang memperoleh royalty. Tetapi, besar royalty yang secara matematis paling banter 10% dari seluruh manfaat (ekonomis dan non-ekonomis) yang diproyeksikan bakal dikeruk oleh pemilik produk dengan adanya iklan tersebut juga bukan jumlah yang signifikan untuk diperbincangkan. Karena itu, bila ditanya siapakah sebenarnya pihak yang akan memperoleh keuntungan terbesar dari industri budaya dalam sosoknya komodifikasi tubuh (perempuan) semacam itu, dengan mudah bisa ditunjuk: pemilik modal! (Dalam konteks ini adalah pemilik perusahaan pengiklan produk dan pemilik stasiun televisi).

Dengan mudah pula bisa ditelusuri bahwa dalam industri budaya semacam itu, selera, aspirasi, dan gaya hidup khalayak senyatanya melulu dikendalikan oleh segelintir elit melalui modal yang dimilikinya. Yang juga pantas dicatat, dalam sebuah pasar yang mendasarkan diri pada prinsip self regulating (swatata), laissez-faire yang merupakan roh pasar swatata (self regulating market) dihantar menjadi sebuah nafsu liar tanpa kompromi (Karl Polanyi, 2003). Itu artinya, bila benar bahwa tangan-tangan tak kentara (invisible hand) akan selalu menciptakan ekuilibrium baru dari ketidakseimbangan yang terjadi dalam pasar swatata, komodifikasi tubuh yang ujung-ujungnya adalah semata-mata eksploitasi (tubuh) perempuan akan tiba pada titik yang sangat mengkhawatirkan.

III. Reifikasi dan Ideologisasi

Berhadapan dengan budaya massa dalam salah satu wujud konkretnya berupa komodifikasi tubuh sebagaimana yang terjadi dalam kebanyakan iklan di layar kaca, mau tak mau manusia akan kehilangan kejatidiriannya sebagai subjek. Ia tak lebih daripada sekadar objek atau dalam istilah Georg Lukacs mengalami reifikasi. Apa artinya? Manusia yang dalam dirinya memiliki kehendak bebas (free will) untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakannya pada akhirnya tak lebih daripada sekadar kerumunan orang (khalayak) yang dijadikan sasaran (objek) penentuan kepentingan segelintir elit.

Hal itu akan tampak semakin jelas bila dikaitkan dengan proses ideologisasi yang terjadi dalam tabung gambar bernama televisi itu!

Bagi Karl Marx, ideologi merupakan “ajaran yang menjelaskan suatu keadaan … sedemikian rupa sehingga orang menganggapnya sah, padahal jelas tidak sah” (Fajar Junaedi, 2005). Bagaimana ideologisasi ini terjadi dalam televisi?

Contoh yang paling jelas adalah pada iklan shampoo dan produk-produk kecantikan. Model yang selalu dijadikan bintang iklan adalah perempuan berkulit putih, berambut panjang-lurus-berkilau, postur tubuh tinggi semampai. Cerita iklan tak pernah jauh-jauh dari pesan: apabila suamimu ingin menciumimu setiap hari atau agar remaja lelaki mengagumimu, kulitmu harus putih halus dan itu bisa kamu dapatkan dalam waktu seminggu (iklan Ponds Miracle dan Citra); apabila kamu ingin bisa tampil lebih percaya diri, dadamu harus montok dan itu bisa kamu dapatkan dengan memakai BH tertentu (iklan Breast up); apabila kamu ingin lelaki mengagumi dan mengejar-ngejarmu, badanmu harus halus dan harum (iklan Lux), dsb.

Khalayak pun kemudian beramai-ramai memakai produk-produk yang diiklankan tersebut dengan harapan kulitnya menjadi putih-halus dan rambutnya panjang, lurus dan indah. Di sinilah manfaat semu sebagaimana ditengarai Adorno tersebut tampak jelas. Kalau pada akhirnya ada orang berkulit putih-mulus dan berambut panjang, indah, lurus; jelas itu bukanlah karena produk pemutih atau shampoo yang digunakan, melainkan orang tersebut pada dasarnya memang telah berkulit putih-mulus dan berambut panjang-lurus-indah!

Dalam pesan iklan itu pula tampak ideologisasinya: perempuan akan dibilang cantik bila berkulit putih, berambut panjang, lurus, kemilau. Sahkah penggambaran cantik semacam itu? Siapa yang mengesahkan? Itulah ideologisasi: orang digiring menganggap sah suatu keadaan yang digambarkan, padahal jelas keadaan itu sendiri sesungguhnya tidaklah sah. Dengan kata lain, ideologi sebenarnya juga sekaligus merupakan distorsi terhadap realitas. Dan karena ideologi merupakan distorsi terhadap realitas, orang-orang yang menjadi objek ideologisasi sebenarnya juga sedang menjalani suatu proses menuju kesadaran palsu! (Fajar Junaedi, 2005).

Bagi Frederick Jamenson, tanda seperti kulit putih-mulus, rambut panjang-lurus-kemilau memang merupakan ikon penting dalam kapitalisme lanjut (Fajar Juanedi, 2005). Dan, karena kapitalisme lanjut mendasarkan diri pada tanda dan bukan substansi, budaya yang terbentuk pun akhirnya merupakan budaya dangkal yang miskin nilai. Dalam budaya yang dangkal semacam itu, “kemasan” menjadi jauh lebih penting daripada “isi”. Celakanya, tanda atau kemasan sering kali (atau bahkan selalu) tidak merefleksikan realitas yang sebenarnya. Tanda dan kemasan tersebut ditampilkan dalam wujud yang dilebih-lebihkan atau dalam bahasa Jameson disebut hiperrealitas.

Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan ketika memperbincangkan ideologisasi adalah hegemoni. Bagi Antonio Gramsci, proses penyebaran ideologi selalu terjadi melalui proses hegemoni dalam bentuknya kepemimpinan moral dan intelektual oleh segelintir elit. Ini pun terjadi dalam sebuah ruang yang bernama televisi tersebut. Penggambaran realitas oleh iklan (juga jangan lupa: sinetron!) tanpa sadar dan tanpa disadari berusaha menggiring opini khalayak ke sebuah opini seragam tentang suatu realitas yang sedang digambarkan itu. “Cantik itu putih, bahagia itu kaya, kebahagiaan rumah tangga itu (suami-istri) ditentukan oleh daya tahan melakukan hubungan badan, modern itu memiliki hp terbaru, dan seterusnya” merupakan opini yang berusaha dijadikan satu-satunya opini yang benar. Opini-opini lain di luar opini yang didengung-dengungkan oleh iklan akan menjadi opini pinggiran yang tidak populer atau bahkan dianggap salah. Seperti itulah hegemoni. Lalu, siapakah elit yang melakukan hegemoni dalam sebuah dunia yang dikuasai iklan semacam itu? Lagi-lagi para pemilik modal!

IV. Penutup

Tampak jelas bahwa di balik manfaat yang tak bisa dibantah akan hadirnya televisi di ruang-ruang keluarga, di sana sekaligus tersimpan problem tidak semata-mata ekonomis tetapi juga ideologis.

Dari sudut pandang ekonomi, layar kaca jelas merupakan pasar. Proses permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar itu tercermin dalam survei lembaga rating—tak peduli apakah dari segi metodologis hasilnya memang akurat—untuk menentukan laris-tidaknya suatu program tayangan. Dan, ketika layar kaca dalam realitasnya adalah sebuah pasar, mengikuti logika kapitalisme, mestinya di sana akan selalu terjadi keseimbangan (ekuilibrium) di mana diandaikan bahwa antara penjual dan pembeli memiliki kesederajatan (equality). Bahwa dalam kenyataannya kesederajatan semacam itu tak pernah terbukti, itulah yang sejak lama telah ditengarai oleh Karl Polanyi bahwa pasar swatata sesungguhnya tak lebih daripada sebuah mitos (Karl Polanyi, 2003). Maka, memercayai adanya tangan-tangan tak kentara (invisible hand) yang akan selalu menciptakan keseimbangan baru dari ketidakseimbangan yang ada di mana pembeli dan penjual memiliki kedudukan yang setara juga dalam sebuah pasar yang bernama televisi, sesungguhnya kita sedang memercayai sebuah mitos!

Referensi

Barthess, Roland. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa (terj. Ikramullah Mahyuddin). Yogyakarta&Bandung: Jalasutra.
Isbandi dkk. 2005. Komodifikasi Budaya dalam Media Massa. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Polanyi, Karl. 2003. Transformasi Besar: Asal-usul Politik dan Ekonomi Zaman Sekarang (terj. M. Taufiq Rahman). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suseno, Frans. Magnis. 1999. Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT Gramedia.


Madrid berniat membeli modric

Posted: Juli 16, 2012 in Sport

Madrid – Pepe dan Alvaro Arbeloa menyambut baik keinginan Real Madrid untuk mendatangkan Luka Modric. Menurut mereka, Modric adalah pemain bagus yang bakal cocok untuk El Real.

Modric sudah lama dikabarkan akan keluar dari White Hart Lane. Beberapa klub top meminatinya, termasuk Chelsea dan Manchester United serta Paris Saint-Germain. Akan tetapi, Modric dikabarkan lebih memilih Madrid.

“Saya senang jika dia bergabung,” ucap Arbeloa seperti dilansir Daily Mail. “Kami punya banyak gelandang bagus. Jadi, mereka harus bersaing untuk bisa mendapatkan tempat,” lanjutnya.

“Saya juga tahu dia adalah pemain yang bagus,” ucap Pepe senada.

Dikutip dari Mirror, seorang sumber dekat Modric menyebutkan kalau pemain 26 tahun itu sudah menjalin kesepakatan pribadi dengan Los Merengues. Disebutkan pula, Modric akan dikontrak selama empat tahun.

Kabarnya Madrid mengajukan tawaran sebesar 28 juta pounds (sekitar Rp 407 miliar). Akan tetapi, Spurs baru akan melepas Modric setidaknya dengan tebusan 35 juta pounds (sekitar Rp 509 miliar).

Jika jadi bergabung, Modric bisa dimainkan di belakang penyerang dalam formasi 4-2-3-1, dengan Cristiano Ronaldo ada di salah satu sisinya. Atau bisa juga dimainkan sebagai gelandang tengah menemani Xabi Alonso.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. echols dan Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam buku Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips mengartikan Gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Mansour Fakih 1999: 8-9).

Dewasa ini wacana perempuan dan  isu gender tampaknya sedang menjadi pembicaraan yang cukup hangat di masyarakat, baik di tingkat nasional maupun daerah pembicaraan mengenai isu perempuan di berbagai ivent umumnya membahas masalah status dan kedudukan perempuan dalam masyarakat yang masih dianggap subordinat dan marjinal kondisi ini disebebabkan oleh adanya konstruksi sosial budaya yang meletakkan peran laki-laki dan perempuan secara berbeda-beda yang didasarkan pada pemahaman perbedaan biologis dan fisiologis dari laki-laki dan perempuan.

Istilah kesetaraan gender pada era modern ini sudah sangat lumrah kita dengar. Gender yang menginginkan kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan di semua bidang kehidupan. Akan  tetapi dalam kenyataanya masih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat yang menyudutkan kaum perempuan. Atau lebih parahnya lagi terjadi kekerasan fisik terhadap perempuan.

Ketidakadilan terhadap sosok perempuan tidak hanya dapat dijumpai dalam realita tetapi dalam karya-karya sastra pun sangat banyak kita jumpai tulisan-tulisan yang mengarah pada perilaku semena-mena terhadap perempuan. Contohnya pada satua Tanting Mas dan Tanting rat. Satua ini sangat kental akan unsur-unsur magisnya. Hal yang menarik disini selain kental dengan unsur magis (pengleakan), adalah pelukisan tokohnya dimana sebagian besar tokoh perempuan  dalam satua Tanting Mas dan Tanting Rat dideskripsikan memiliki watak yang jahat yang menjalani ajaran pengleakan. Mereka sangat kejam dan suka membunuh korbannya dengan semena-mena.

Dalam Bali-iloveblue.com (18/8/2004), menyatakan bahwa leak sudah mendarah daging di benak masyarakat Bali. Bahkan zaman dulu kata Leak dipakai tema dalam satua atau kini disebut dongeng. Cerita mengenai leak menjadi satu cerita yang menarik dari masa ke masa, baik untuk kalangan dewasa maupun anak-anak, walaupun cenderung menakutkan ketika baru mendengar namanya saja. Cerita tentang leak dapat meyakinkan anak-anak zaman dulu terutama di perkampungan agar tidak bermain-main di malam hari karena dapat diganggu oleh leak yang sedang berkeliaran untuk menguji ilmunya dengan cara memakan anak kecil.

Di desa pada umumnya, jika bayi menangis di malam hari maka dikatakan telah diganggu leak dan tuduhan dapat berlaku bagi siapa saja tetangga disekitar rumah yang dikatakan bias ngeleak. Sekarang tentunya kita telah sedikit mengetahui tentyang leak, maka ajaklah mereka yang belum paham benar tentang ajaran leak agar tidak mengasumsikan sendiri kebenaran tentang leak itu sendiri yang nantinya dapat mengundang kesalah pahaman dan konflik dalam kehidupan masyarakat, teruitama di pedesaan

Karena keunikan satua Tanting Mas dan Tanting Rat inilah yang membuat penulis tertarik untuk mencoba mengkaji satua ini dilihat dari perspektif perempuan.

 

2. Rumusan masalah

Dari latar belakang di atas maka permasalahan yang ingin dimunculkan adalah :

  1. Bagaimana bentuk ketidakadilan terhadap perempuan dalam satau Tanting Mas dan Tanting Rat?
  2. Bagaimana posisi laki-laki pada satua Tanting Mas dan Tanting Rat?

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Sinopsis satua Tanting Mas dan Tanting Rat.

Disebutkan raja di Pedegelan yang sangat pandai dalam semua jenis ilmu pengetahuan yang utama. Pada suatu hari raja berembug denga permaisuri mengenai sebab tidak mempunyai putra, maka menghadaplah beliau ke pura Dalem untuk madewasraya. Lalu turulah sabda dari langit yang berpesan bahwa raja dan permaisuri itu akan mempunyai keturunan dengan satu syarat, dalam perjalanan pulang nanti ke istana beliau tidak diperkenankan menoleh kanan-kiri ataupun berkata-kata. Tetapi sang raja dan permaisurinya lupa dengan sabda itu. Dalam perjalanannya pulang ke istana beliau melihat dua ekor anak babi yang lucu dan gemuk, mereka berkeinginan mempunyai anak seperti anak babi itu.

Tidak diceritakan berapa lama wktunya akhirnya sang permaisuru melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan akan tetapi yang lahir adalah babi, sesuai dengan perkataan beliau terdahulu. Oleh karena itu dibuanglah kedua anak babi itu ke kuburan. Babi yang perempuan kemudian bertapa di pura kahyangan dan babi yang laki-laki bertapa di Pura Dalem.

Anak babi yang perempuan didatangi oleh Bhatari Durgha dan memberi sang anak kesaktian tanpa tanding dengan wajah yang sangat cantik yang bernama Tanting Mas. Lalu disuruh pergi ke negeri Dirah sedangkan anak babi yang laki-laki didatangi oleh Bhatara Siwa dan diberi anugrah darma kepemangkuan, anak babi laki-laki babi itupun berubah menjadi anak yang tampan dan diberi nama Tanting Rat. Setibanya di jaba pura kakak-beradik itu berembug dan sepakat untuk ke negeri Dirah sesuai anjuran Bhatari Durgha.

Setelah sampai di Dirah dan bertemu sang raja Tanting Mas pun dijadikan permaisuri dan adiknya Tanting Rat diangkat menjadi pendeta istana dan diberi gelar Mpu Peradah. Dari hasil pernikahannya dengan sang raja Tanting Mas mempunyai anak yang bernama Ratna Manggali.

Pada suatu hari ketika Tanting Mas sedang menenun dan sang raja sedang mengadakan pertemuan Ratna manggali merengek-rengek lalu diperintahkan oleh ibunya untuk mencari sang ayah. Tiba di tempat sang ayah diperintahkan lagi ke tempat sang ibu. Tanting Mas pun marah dan menatap tajam sang raja, seketika itu sang raja meninggal di ruang pertemuan. Mengetahui kejadian itu adiknya Mpu Peradah menasehati agar tidak sembarangan menggunakan aji wegig yang berakibat meninggalnya orang yang tak berdosa. Tanting Mas pun marah mendengar nasehat adiknya lalu mengusirnya dari Dirah. Mpu Peradah pun pergi dari Dirah menuju ke Petulisan sesuai dengan petunjuk Bhatara Siwa.

Sepeninggalan suaminya Tanting Mas kemudian ganti nama menjadi Walunateng Dirah. Pada suatu hari ada masyarakat sudra yang bersuami istri bernama Madusegara menghadap pada Walunateng Dirah untuk berguru tapi Walunateng Dirah salah tanggap karena dikiranya akan mengajaknya perang tanding. Mereka pun diusir bagai seekor anjing dan suaminya diteluh akhirnya meninggal. Karena cintanya dengan suami maka Madusegara tinggal di atas gundukan kuburan suaminya. Dia pun akhirnya didatangi oleh Bhatari Durgha dan diberi anugrah kesaktian lebih tinggi dari Walunateng Dirah (Madusegara tingkat 11, Walunateng Dirah tingkat 9). Walunateng Dirah pun akhirnya kalah, menyembah mohon ampun agar tidak dibunuh.

Lalu Walunateng Dirah menghadap Dewi Durgha untuk bertanya kenapa Madusegara memiliki kesaktian di atasnya. Dewi durgha menjelaskan, karena dulu Walunateng tidak mau menerima Madusegara menjadi muridnya. Pada akhirnya kesaktian Madusegara pun dipotong 4 tingkat menjadi murid Walunateng Dirah yang kemudian bernama I Rarung.

Kini diceritakan Sang Ratna Manggali yang telah direncanakan dijodohkan dengan saudara sepupunya yakni raja Erlangga di Kediri oleh Walunateng Dirah. Prabu Erlangga telah mengetahui perbuatan Walunateng Dirah dan menolak lamaran itu. Walunateng marah dan menyuruh murid-muridnya menebarkan wabah penyakit ke Kediri. Sang Prabu terus mencari jalan untuk dapat menaklukan Walunateng karena para patih yang dikirimnya selalu mati di tangan Walunateng Dirah.

Beliau kemudian meminta petunjuk pada Hyang Widhi dan disebutlah nama Mpu Peradah di Petulisan yang dapat mengalahkannya. Mpu Peradah kemudian menyusun siasat untuk mengalahkan Walunateng Dirah. Diperintahkanlah muridnya Mpu Bahula untuk melamar Ratna Manggali demi mendapat rahasia kesaktian ibunya.

Setelah rahasianya didapatkan, Mpu Peradah kemudian beradu tanding di kuburan, disanalah Walunateng Dirah terbunuh dan dibakar menjadi abu. Abunya itu kemudian dihidupkan lagi, Walunateng menyembah kepada Mpu Peradah dan memohon jangan dihidupakn kembali karena malu akan mendapat gunjingan orang sedunia. Sesuai dengan permintaannya Walunateng Dirah dibunuh kembali. Semua muridnya diruwat sehingga menjadi orang sadhu. Kerajaan dirah pun tenteram kembali.

 

2.2  Bentuk Ketidakadilan Terhadap Perempuan Dalam Satua Tanting Mas dan Tanting Rat

Bentuk ketidakadilan dalam satua ini adalah dilihat dari penokohannya. Tokoh merupakan pelaku-pelaku yang melahirkan peristiwa atau penyebab terjadinya peristiwa, dan tokoh-tokoh dihadirkan dengan maksud menghidupkan cerita. Sedangkan segala cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan tokoh-tokoh disebut penokohan. (Saad, 1978:11).

Panuti Sudjiman (1986:58) mengatakan Fungsi tokoh dalam sebuah cerita sangat erat hubungannya dengan alur cerita, sebab tokohlah yang dapat membuat suatu tindakan hingga timbul suatu peristiwa dalam cerita. Tanpa adanya tokoh tak akan ada peristiwa dalam cerita. Penokohan adalah penciptaan citra tokoh di dalam karya sastra (Sudjiman (ed), 1986: 58). Dalam proses penciptaan citra tokoh tersebut, watak tokoh dapat diungkapkan melalui (1) tindakannya, (2) ujarannya, (3) pikirannya, (4) penampilan fisiknya, (5) apa yang dikatakan atau yang dipikirkan tokoh tentang dirinya. Sehingga antara tokoh dan penokohan terdapat hubungan timbal balik. Keduanya sukar dibedakan, tanpa memahami bagaimana cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya (Atmaja,     1985 : 1).

Tokoh Walunateng Dirah dideskripsikan sebagai tokoh yang jahat, melaksanakan aji wegig, sadis, semena-mena membunuh manusia tanpa dosa. Berikut kutipan yang menyatakan Tanting Mas adalah sosok yang sangat menyeramkan dan bersifat jahat.

Sasampune rauh ring tengah setrane ngandika Walunateng sarwi nuding Empu Peradah, penyingakanne nelik ngemijilang geni, lidahe nyelep, calinge nyapnyap pakretek, irunge ageng, cangkeme nyebak. Sami ngamedalang geni ngarab-arab

Terjemahan :

Setelah sampai di tengah kuburan, berbicaralah Walunateng sambil menuding Umpu Peradah, matanya mendelik mengeluarkan api, lidahnya menjulur keluar, taringnya menggeretak, hidungnya besar, mulutnya menganga lebar, semuanya mengeluarkan api berkobaran.

 

Tanting Mas mempunyai 8 orang murid yaitu I Rarung, I Lenda, I Lendi, I Guyang, I Weksirsa, I Misadenawa, I Sida Malung dan I Gandi yang kesemuanya perempuan dan melaksanakan aji wegig. Semua memiliki sifat yang jahat dan menyeramkan seperti Walunateng Dirah. Berikut ini kutipannya :

 

1. I Rarung

Seorang perempuan yang melaksanakan aji pengleakan dan menduduki arah timur. Berikut kutipannya :

I rarung Nganginang nyincingan kamben, ngrehan megambahan roma tur ngigel. Saking matan ipun ngemijilang geni makebur ring ambarane.

Terjemahannya :

I Rarung menuju ke timur mengangkat kain, ngrehan mengurai rambut dan menari. Dari matanya mengeluarkan api berkobaran di langit.

 

2. I Lendi

            Ciri-cirinya rambut sepipi, murid walunateng Dirah yang mendiami arah mata angin di bagian barat. Perilakunya sangat menyeramkan seperti terdapat dalam kutipan dibawah ini :

I Lendi ngauhang, rambute taler magambahan sakewanten nganteg ring pipi. Saking matan ipun metu geni barak dangkrak-dingkrik maputeran piong tiga. Kamben ipun sampun macingcingan, liman ipun katungkedang pues ipun sane dados geni.

Terjemahan :

I Lendi ke barat, rambutnya digerai tetapi hanya sampai ke pipi. Dari matanya keluar api merah, berlari sambil berloncat-loncat dan tertwa berputar tiga kali. Kainnya sudah diangkat, tangannya diinjakkan ke tanah ludahnya yang menjadi api.

 

 

3. I Lenda

Ciri-cirnya rambut panjang hinggake tanah, murid walunateng Dirahyang mendiami arah mata angin di bagian utara. Perilakunya menyeramkan seperti terdapat dalam kutipan berikut :

I Lenda ngalerang pemargine, rambut ipune mledped ring tanahe, nyungetnget pamargin ipun, mamargi antuk tangkah ipun, solahe ngeresing ati.

Terjemahan :

I Lenda ke utara jalannya, rambutnya terjuntai di tanah, menunduk jalannya, berjalan dengan dadanya, sikapnya menyeramkan.

 

4. I Weksirsa

Murid Walunateng Dirah yang mendiami arah mata angin  bagian utara. Perilakunya menyeramkan seperti terdapat dalam kutipan berikut :

I Weksirsa ngalerang pemargin. Ipun sampun magentos rupasolahe ngerersin ati, saking matan ipun kebyar-kebyar geni samaliha ngigel, rambute magambahan, layah ipun panjang nganteg ke tanah

Terjemahan

I Weksirsa ke utara jalannya, ia sudah berganti rupa sikapnya membuat hati seram. Dari matanya berkobar-kobar api sambil menari, rambutnya digerai, lidahnya panjang sampai ke tanah.

 

5. I Misadenawa

            Tokoh ini mempunyai ciri-ciri seorang perempuan, muris Walunateng Dirah yang bisa berubah menjadi kerbau tinggi besar. Untuk lebih jelasnya perhatikan kutipan di bawah ini :

Tiosan malih wenten sane dados kebo ageng tegeh saking matanipun ngamijilang geni kadi Sang Hyang Surya makalangan.

Terjemhannya :

Ada lagi yang menjadi kerbau besar dari matanya keluar api seperti Sang Hyang Surya.

 

 

6. I Sida Malung

Tokoh ini mempunyai ciri-ciri bisa berubah menjadi anjing besar. I Sida Malung adalah murid dari Walunateng Dirah. Untuk lebih jelasnya perhatikan kutipan berikut :

I Sida Malung, goban ipun nyejehin galak, mengorang bungut ipun tur capluk-capluk, gigine ngretek maideran soang-soang umah, sakancan sane ningalan jeg padem pramangkin.

Terjemahan :

I Siida Malung rupanya galak, memoncongkan mulutnya dan capluk-capluk, gemeretak berkeliling di setiap rumah, yang melihat langsung mati seketika.

 

7. I Gandi

            Tokoh ini memiliki ciri-ciri, seorang perempuan, muris Walunateng Dirah. Perilakunya sangat menyeramkan. Untuk lebih jelasnya coba perhatikan kutipan berikut :

I Gandi mederan sambilanga memantra, ipun melalung nungkedang bangkiang tur celeke duen ipun sasampunne kaadekin raris nuding sane ngranayang akeh anake mising.

Terjemahan :

I Gandi berkeliling sambil mengcapkan mantra. Ia bertelanjang berkacak pinggang dan memasukkan telunjuknya ke kemaluannya setelah itu dibaui kemudian menuding yang membuat banyak orang terkena diare.

 

Dari pelukisan tokoh-tokoh dalam satua Tanting Mas dan Tanting Rat di atas terlihat bahwa sosok perempuan selalu dikaitkan dengan ilmu hitam dan kejahatan yang suka membunuh orang-orang yang tidak berdosa dengan kesaktian ilmu magisnya.

 

2.3. Peranan Tokoh Laki-Laki Pada Satua Tanting Mas dan Tanting Rat.

Cerita Tanting Mas dan tanting Rat kental sekali dengan unsur magisnya. Dalam kebudayaan bali konsep magis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu pengiwa dan penengen (rwa bhineda). Dalam kebudayaan Bali konsep kiwa tengen bermakna sanagt luas, antara lain dapat bermakna hitam-putih, luan-teben, kaja-kelod, gunung-laut, baik-buruk, dsb.

Hal inilah yang terjadi dalam cerita Tanting Mas dan Tanting Rat, dalam cerita ini tokoh antagonis selalu berada pada perempuan dimana perempuan pada cerita tersebut dilukiskan sebagai tokoh yang menjalani ilmu magis (pengleakan). Dideskripsikan sebagai tokoh yang kejam dan membunuh orang yang tak berdosa dengan semena-mena. Contohnya saat Sang Raja Erlangga meninggal karena tatapan tajam  Walunateng Dirah yang permasalahannya hanya soal mengasuh Ratna Manggali.

Berbeda halnya dengan tokoh laki-laki dalam satua Tanting Mas dan Tanting Rat. Dimana tokoh laki-laki menjadi tokoh protogonis. Disebutkan konsep rwa bhineda di satua Tanting Mas dan Tanting Rat sangat jelas terlihat di mana perempuan dilukiskan melalui Walunateng Dirah sebagai tokoh jahat dan kemudian diberantas oleh tokoh laki-laki yang dilukiskan melalui tokoh Mpu Peradah yang menghancurkan kejahatan yang dibuat oleh Walunateng Dirah. Contohnya saat Walunateng akhirnya dapat dibunuh oleh Mpu Peradah kemudian dihanguskan hingga menjadi abu

Dengan demikian sosok perempuan dalam satua Tanting Mas dan Tanting Rat mendapat tempat yang sangat tidak adil. Jika kita kaitan dengan realita zaman sekarang hal ini sudah tidak sangat relevan. Karena kalau dilihat dari banyaknya kasus kejahatan yang terjadi sekarang ini lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki. Jadi antara satua dengan realita sudah terjadi pergeseran pandangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN

 

3.1 Simpulan

  1. Ketidakadilan terhadap sosok perempuan dalam satua Tanting Mas dan Tanting Rat adalah terletak pada pelukisan tokohnya. Dalam ceritan tersebut perempuan berperan sebagai tokoh antagonis yang selalu melakukan kejahatan dengan menggunakan ilmu pengleakannya.
  2. Kesetaraan gender dalam satua Tanting Mas dan Tanting Rat belum terlihat, dimana tokoh perempuan dianggap jahat dan tokoh laki-laki adalah yang baik.
  3. Dalam cerita Tanting Mas dan Tanting Rat terjadi konsep Rwa Bhineda dimana laki-laki yang menduduki posisi sebagai penengen dan perempuan sebagi pengiwa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Artikel Bali-iloveblue.com ; tanggal 18 Agustus 2004 dan 22 Oktober 2004

 

Atmaja, Jiwa. 1987. “Strukturalisme Genetik : Sebuah Pengantar”. Denpasar : Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana.

 

                      . 2005. Leak Dalam Foklore Bali. Denpasar : CV. Bali Media Adhikarsa.

 

Brooks, Ann. 2009. Posfeminisme & Cultural Studies. Jalasutra : Yogyakarta.

 

Kardji, I Wayan. Ilmu Hitam Dari Bali. 2005. Bali Media : Denpasar.

 

Nadihari, Sari. 2007. Satua Tanting Mas dan Tanting Rat Analisis Semiotik. Skripsi Sarjana Bahasa Bali UNUD : Denpasar.

 

Ratna, Kutha. 2008. Postkolonialisme Indonesia, Relevansi Sastra. Pustaka Pelajar : Yogyakarta

 

Saad, Saleh M. 1978. Cerita Rekaan. Jakarta : Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

 

Sudjiman, Panuti. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta Pusat : Pustaka Jaya.