Filsafat Manusi…

Posted: Juli 14, 2012 in Hot News

Filsafat Manusia dan Kebudayaan

STUDI BANDING ANTARA FILSAFAT INDIA, CINA DAN ARAB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

Ida Bagus Gede Paramita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Pendahuluan

Kata filsafat pertama kali dipergunakan oleh Pythagoras pada tahun 582-496 dan selanjutnya dipergunakan oleh kaum sophis serta Socrates (watra 2006:7).  Istilah filsafat berasal dari kata Yunani Kuno yaitu philos dan Sophia. Pholos artinya cinta , sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan (wisdom)dari definisi filsafat secara umum maka ada 2 sifat yang muncul yaitu sifat kritis dan sistematis. Sifat krits adalah keterbukaan terhadap berbagai hal baru dan upaya menghindari kebekuan pemikiran. Sifat sistematis ad lah upaya untuk memahami segala sesuatu menurut aturan tertentu, runut, bertahap, dandituliskan menurut aturannya (Takwin, 2009:21-22). Berikut akan disajikan beberapa ikhitisar filsafat (Cina, India dan Arab), perbedaan dan persamaan dari masing-masing filsafat serta refleksinya.

 

2.  IKHTISAR FILSAFAT CINA, INDIA DAN ARAB

2.1 Filsafat China

            Orang china beranggapan bahwa sejarah mereka berasal dari zaman Huang Ti (Kaisar Kuning). Setelag zaman Huang Ti yang dimulai sekitar 4.700 tahun yang lalu (2697 M) Cina Kuno diperintah berturut-turut oleh beberapa kaisar bijaksana, Yao, Sun dan Yu. Kemudian pada zaman Cah-kuo terjadi perang antara Negara. Sehingga pada zaman itu terjadi kekacauan dan muncul pemikir cina kuno yaitu K’ung Tsu (Confusianisme) dan Lao tsu (Taoisme).

 

2.1.1 Ajaran K’ung Tsu (Confusianisme)

Confucius (Khung Fu Zi/ Khung Zi atau Guru Khung) merupakan seorang Guru Agung, yang mana kumpulan tulisannya telah dikutip secara luas oleh berbagai kalangan sampai kehidupan saat ini. Salah satu pandangannya yang sangat berarti adalah bahwa segala pengetahuan yang sesungguhnya berarti mengatakan apa yang diketahui bila memang mengetahui, dan mengatakan apa yang tidak diketahui bila memang tidak mengetahui. Ungkapan lainnya yang sering dijadikan tolak-ukur dan membangun semangat kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan ini, adalah nasehatnya yang mengatakan bahwa kita janganlah bersedih hati hanya karena tidak diakui oleh orang lain, tetapi lebih baik tanyakan diri kita sendiri (instropeksi) apakah sudah sepantasnya diakui orang.

Ajaran utama Confucius menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas atau kebajikan. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu sehingga setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Sebagai contoh, kewajiban terhadap negara, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban untuk menolong teman, dan suatu kewajiban umum terhadap kehidupan manusia.

Kewajiban-kewajiban tersebut tidaklah sama dimana kewajiban terhadap negara dan orang tua lebih diutamakan daripada kewajiban terhadap teman dan kehidupan manusia. Sifat-sifat mulia yang diajarkan oleh Confucius bertujuan untuk menciptakan manusia yang berbudi-pekerti luhur yang disebut Budiman (C’un Zi), suatu proses latihan yang meliputi peningkatan kualitas diri secara tetap, dan kemampuan berinteraksi di dalam kehidupan bermasyarakat secara berkelanjutan. Walaupun Beliau menekankan proses belajar sebagai ’suatu kepentingan untuk diri sendiri’, dimana pada akhirnya terbentuk pengetahuan diri dan realisasi diri, namun Beliau juga menyatakan bahwa kebanyakan orang akan memperoleh pendidikan sejati secara alami.

Confucius dikenal juga sebagai guru pertama di Tiongkok yang memperjuangkan tersedianya pendidikan bagi semua orang, dan menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai suatu kewajiban semata-mata, melainkan suatu cara untuk menjalani kehidupan ini.

Beliau mempercayai bahwa semua orang dapat menarik manfaat dari hasil pengolahan diri dalam belajar. Beliau mengabdikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mengajar dengan tujuan meningkatkan dan mengubah kehidupan sosial saat itu. Confucius juga memperkenalkan suatu program ajaran moralitas atau kebajikan untuk para calon pimpinan negara, membuka peluang belajar bagi semua orang, dan mendefinisikan kegiatan belajar tidak hanya berdasarkan penguasaan pengetahuan semata-mata, tetapi juga membentuk moralitas atau kebajikan seseorang.

 

2.1.1.1 Riwayat Confusius

Confucius, bernama kecil Khung Chiu atau Zhong Ni, lahir pada masa pemerintahan Raja Ling dari dinasti Zhou (551 SM) di desa Chang Ping Negara bagian Lu (Sekarang Chu-fu, propinsi Shandong). Secara tradisi dikatakan bahwa Confucius dilahirkan pada hari ke-27 bulan lunar ke-8, tetapi hal tersebut masih dipertanyakan oleh para ahli sejarah.

Di kebanyakan Negara Asia Timur, kelahiran Confucius diperingati pada tanggal 28 September, dan di Taiwan pada hari tersebut diberlakukan sebagai hari libur nasional atau ‘Hari Guru’. Ayahnya meninggal dunia pada saat Confucius berusia 3 tahun, dan ibunya menyusul pada waktu Beliau berumur 17 tahun. Pada usia 15 tahun , Confucius telah mempelajari berbagai buku pelajaran.

Menjalani kehidupan berkeluarga pada usia 19 tahun dengan menikahi gadis dari negara bagian Song bernama Yuan Guan. Anak pertama Confucius lahir setahun kemudian dan diberi nama Khung Li. Sebagai seorang pemuda , Beliau cepat dikenal sebagai seorang yang bijaksana, sopan dan senang belajar. Berbagai pekerjaan pernah dilakukan oleh Confucius, antara lain sebagai kepala pembukuan di lumbung padi, pengawas peternakan, dan mandor bangunan.

Untuk kemudian Confucius sangat mengkonsentrasikan diri dalam mempelajari sejarah (Shu), ungkapan-ungkapan (Shi), tata krama (Li) dan musik (Yue) sebelum diangkat sebagai gubernur distrik tengah Lu oleh Bangsawan Ding.

Beliau melakukan berbagai perjalanan dan pernah menimba ilmu pengetahuan di Ibu Kota Negara, Zhou, dimana Beliau bertemu dan berdiskusi dengan Lau Zi. Tidak diketahui siapa saja guru dari Confucius, tetapi Beliau senantiasa berusaha untuk menemukan seorang guru yang ahli guna menimba ilmu dari mereka, khususnya dalam bidang tata-krama (Li) dan musik (Yue). Confucius menguasai enam seni, yaitu tata-krama, musik, memanah, menunggang kuda, menulis huruf indah (kaligrafi) dan ilmu menghitung (aritmatika). Selain itu Beliau juga menguasai berbagai bentuk tradisi klasik, sejarah dan puisi kebangsaan sehingga menjadikannya seorang pengajar yang tiada bandingnya pada saat Beliau berusia tiga-puluhan.

Dalam memegang pemerintahan, Beliau sangatlah arief dan bijaksana, sehingga selalu mendapatkan promosi jabatan (dari usia 35 tahun sampai 60 tahun) dimana Beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Komisaris Polisi untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta Menteri Kehakiman. Sesudah mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan, Confucius lebih banyak berdiam di rumah untuk menerbitkan Kitab tentang Puisi (The Book of Poetry / Odes = She Cing), menggubah musik, dan menyusun tata krama kuno termasuk menulis dan menerbitkan Kitab Sejarah Musim Semi dan Gugur (Spring and Autumn Annals = Chuen Chiu).

Confucius juga selalu meluangkan waktu untuk memberi kuliah dan berbagi pengetahuan dengan murid-muridnya. Beliau menerima siapa saja, tanpa memandang miskin atau kaya, semuanya diberikan pelajaran sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga murid-muridnya mengalami penambahan dalam jumlah yang sangat besar untuk jangka waktu yang relatif pendek. Dalam usia 67 tahun, Beliau kembali ke tempat kelahirannya untuk mengajar dan mengabadikan karya-karya tradisi klasik dengan cara menulis dan mengolah kembali bentuk karya tersebut.

Confucius meninggal dunia pada tahun 472 SM, bulan ke-4 tahun ke-16 dalam masa pemerintahan bangsawan Ai, dalam usia 73 tahun. Menurut buku ‘Records of the Historian’, dijelaskan bahwa 72 murid Beliau menguasai enam jenis seni, demikian juga terdapat kurang lebih 3000 orang yang mengaku sebagai pengikut Confucius waktu itu.

2.1.1.2 Ajaran-Ajaran Confucius

Lebih tepat disebut sebagai ajaran daripada tulisan, karena banyak sekali buah karya Confucius terutama “Buku Kumpulan Ujaran [The Analects = Lun Yu]” yang ditulis kembali oleh murid-muridnya setelah Beliau meninggal dunia.Berbagai terjemahan atas ajaran Confucius telah dilakukan ke dalam berbagai bahasa. Ajaran-ajaran Confucius tersebar ke negara-negara di luar Tiongkok, bahkan tidak sedikit yang mempengaruhi kebudayaan mereka.

Pengaruh ajaran Confucius berkembang pesat di Eropa dan Amerika, dimana dapat dilihat semboyan revolusi Perancis yang terkenal, yaitu Liberty (kebebasan), Equality (persamaan) dan Fraternity (persaudaraan), yang berasal dari ajaran kemanusiaan (Humanism) Confucius. Demikian juga Piagam Kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence) sangat terpengaruh oleh ajaran Confucius, dimana dalam diskusi pembahasan naskah tersebut, Thomas Jefferson sendiri mengakuinya.

Negara-negara Asia paling banyak menerima pengaruh ajaran Confucius, terutama negara Korea, Jepang, Vietnam, Singapura, dan Taiwan.Dari hasil riset ke dalam situs jaringan (Web Sites) di internet yang Penyusun lakukan, membuktikan bahwa sampai saat ini ajaran-ajaran Confucius masih diakui dan dipelajari secara meluas terutama di luar Asia.

Secara garis besar, Confucius membagi proses ajarannya melalui 4 tahapan, yaitu:
1. Mengarahkan pikiran kepada cara.
2. Mendasarkan diri pada kebajikan.
3. Mengandalkan kebajikan untuk mendapat dukungan.
4. Mencari rekreasi dalam seni.

 

Beliau menyusun 8 prinsip belajar, mendidik diri sendiri dan hubungan sosial, yaitu:
1. Menyelidiki hakekat segala sesuatu (Ke’-wu)
2. Bersikap Jujur
3. Mengubah pikiran kita
4. Membina diri sendiri (Hsiu-shen)
5. Mengatur keluarga sendiri
6. Mengelola negara
7. Membawa perdamaian di dunia.

 

Confucius membuat suatu daftar prioritas dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, yaitu:
– Kelakuan adalah syarat utama,
– Berbicara adalah prioritas kedua,
– Memahami soal-soal Pemerintahan adalah prioritas ketiga,
– Kesusasteraan adalah prioritas keempat.

 

Ajaran-ajaran Confucius telah mempengaruhi kehidupan sebagian besar kebudayaan China baik kehidupan berumah-tangga, sosial ataupun politik. Walaupun ajaran Confucius telah menjadi suatu ideologi resmi di Tiongkok, namun ajaran Beliau tidaklah dapat dianggap sebagai suatu organisasi keagamaan dengan gereja dan pendeta sebagaimana yang terdapat dalam agama-agama resmi lainnya.

Para cendekiawan China menghormati Confucius sebagai seorang Guru Agung dan Orang Suci tetapi tidak menyembahnya sebagai dewa. Demikian juga Confucius tidak pernah menyatakan dirinya sebagai utusan Ilahi. Namun dalam perkembangannya lebih lanjut, yang dipengaruhi oleh ajaran Taoisme saat itu, Confucius juga dipuja sebagai salah satu Dewa Pendidikan dalam vihara para Taois.

Di Indonesia, para umat Confucius sampai saat ini masih berjuang agar dapat diakui sebagai salah satu agama resmi negara dengan alasan bahwa ajaran Confucius menegaskan dan mengakui adanya keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Namun di negara Barat, ajaran Confucius lebih dipandang sebagai suatu ajaran moralitas yang menekankan kebangkitan diri sejati dalam bertingkah laku secara sopan dan berkepatutan serta pencurahan rasa bhakti yang tinggi terhadap orang tua, istri, anak, saudara, teman, atasan, dan pemerintahan. Prinsip ajaran Confucius tertuang dalam sembilan karya kuno China yang diturunkan oleh Confucius dan pengikutnya yang hidup pada masa pengajaran Beliau. Karya tersebut dapat dikelompokkan dalam dua bagian utama, yaitu Empat Buku (Shih Shu) dan Lima Kitab (Wu Cing).

Kata kunci utama etika para pengikut Confucius adalah JEN, yang dapat diterjemahkan secara bervariasi sebagai Cinta Kasih, Moralitas, Kebajikan, Kebenaran, dan Kemanusiaan. Jen merupakan perwujudan akal budi luhur dari seseorang yang mana dalam hubungan antar manusia, Jen diwujudkan dalam cung, atau sikap menghormati terhadap seseorang (tertentu) ataupun orang lain (pada umumnya), dan shu, atau sikap mementingkan orang lain (altruisme) dimana terkenal dari ucapan Confucius sendiri, “Janganlah engkau lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin engkau lakukan terhadap dirimu sendiri.”

Ajaran Confucius lainnya yang penting adalah Kebenaran, Budi Pekerti, Kebijaksanaan, Kepercayaan, Bhakti, Persaudaraan, Kesetiaan, dan Kesadaran Diri.

Seseorang yang telah menguasai keseluruhan sifat luhur tersebut maka layak disebut Budiman (C’un-Zi).

Ajaran politik yang dikembangkan oleh Confucius mengarah kepada suatu pemerintahan yang bersifat paternalistik (kebapakan), dimana terjalin sikap saling menghormati dan menghargai antara pemerintahan dan rakyat. Pemimpin negara haruslah menciptakan kesempurnaan moral dengan cara memberikan contoh yang benar kepada rakyat.

Dalam ajaran pendidikan, Confucius berpegang pada teori, yang diakui selama periode pemerintahan selama Beliau masih hidup, bahwa “Dalam pendidikan, tidak ada perbedaan kelas.”

 

2.1.2 Ajaran Taoisme

Pengetahuan umum Daoisme atau Dào-Jiā sering dihubungkan dengan nama, seolah-olah Laozi adalah perintisnya. Nama Laozi sebenarnya adalah sebutan kehormatan yang berarti ‘Guru Yang Sepuh ’. Lao Tzu (Laozi) merupakan ahli filsafat yang terpopuler dan juga merupakan pendiri Daoisme pada abad 6 s/M. Ajaran ini terus berkembang sampai abad 2 s/M.

Riwayat hidup Laozi tidak banyak terdapat dalam catatan historis, tetapi kewujudannya terbukti dalam catatan historis Tiongkok, Shiji yang ditulis oleh Sīma Qiān. Masa hidupnya pun diragukan, namun diperkirakan pada 604-531 s/M. Ia berasal dari negeri Chun, wilayah selatan Kerajaan Zhōu, sekarang dikenal dengan Provinsi Henan disebelah selatan sungai Huanghe. Ia merupakan ketua pustakawan Chuguo pada zaman dinasti Zhōu , di mana pada masa jabatannya, ia banyak mendapat manfaat dengan membaca kitab-kitab serta catatan-catatan historis, sehingga ia mencapai keluasan wawasan. Banyak tradisi maupun cerita yang mengisahkan Laozi. Ia menciptakan dua karya yang berjudul Dao dan De sebelum meninggalkan Chuguo. Kedua kitab tersebut digabungkan dan diperkenalkan sebagai Daode Jing yang berisikan 5000 huruf Tionghoa dalam 81 bab.

Apa itu sebenarnya Daoisme? . Daoisme berasal dari kata “Dao” yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada di alam semesta. Dao yang berwujud dalam bentuk benda hidup dan kebendaan lainnya adalah De. Gabungan Dao dengan De dikenal sebagai Daoisme yang merupakan landasan kealamian. Daoisme bersifat tenang, tidak berbalah, bersifat lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud disaat seseorang mencapai kesadaran Dao, dan orang tersebut akan menjadi dewa. Penganut-penganut Doisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa.

Dao melahirkan sesuatu, yang dilahirkan itu melahirkan Yin dan Yang, Yinyang saling melengkapi untuk menghasilkan tenaga atau kekuatan. Kekuatan tersebut bersumber dari jutaan benda di dunia. Setiap benda di alam semesta yang berupa benda hidup ataupun benda mati mengandung Yin yang yang saling melengkapi untuk mencapai keseimbangan.

Secara terminologi, Yin dan Yang diterjemahkan sebagai negatif dan positif. Setiap benda bersifat dualisme yang terdiri dari unsur positif dan unsur negatif. Benda yang tidak memiliki unsur negatif dan positif, itu bermakna kosong dan hampa. Seperti halnya magnet, magnet mempunyai unsur positif dan negatif, kedua-duanya bersifat saling melengkapi. Magnet tanpa unsur positif, maka tidak terwujudlah negatif. Itu bermakna bahwa magnet tidak akan terwujud jika tidak memiliki kedua unsur tersebut.

Lambang Yin Yang yang paling populer adalah lambang Xiantian Taiji atau Yinying Yu diperkenalkan oleh Lai Zhide. Sejarah pengkajian dan perkembangan lambang Yinyang dimulai pada masa Dinasti Song hingga abad ke-15. Lambang Daoisme yang lainnya adalah Chentuan dan Chou Dunyi, popularitas kedua lambang ini kedudukannya setelah popularitas lambang Xiantian Taiji . Lambang asli dari Doisme adalah lambang Wuji oleh Chentuan pada awal Dinasti Song, kemudiannya dimajukan oleh Chou Dunyi yang memperkenalkan lambang Tai Ji.

Daoisme yang mementingkan kesehatan, pernah mendiskusikan “hidup abadi” dalam konteks ajarannya, Daoisme dijadikan dasar perkembangan kepercayaan manusia untuk menjadi dewa dalam mencapai keabadian. Dalam ajarannya, Laozi menentang Confusius. Menurutnya bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Dao. Dao menurutnya adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Laozi lebih-lebih metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika Daoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Dao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut “docta ignorantia”, “ketidaktahuan yang berilmu”) .

Konsep pemikiran maupun pandangan-pandangan Laozi erat kaitannya tentang dunia dan alam semesta serta hubungannya dengan kehidupan manusia, pemerintahan, dan Yang Mahaesa (Dao). Dao terkesan tidak logis, dan memang Dao melampaui batas-batas logika. Sehingga untuk dapat memahami dan mengerti secara mendalam ajaran Laozi yang sulit ini diperlukan usaha yang tekun dan perenungan yang mendalam secara intuisi. Kebanyakan orang mengidentikkan Daoisme sebagai sesuatu yang bersifat gaib dan mistik. Hal ini disebabkan pada zaman Hao Han, terdapat seorang pengikut Daoisme bernama Zhang Tao Ling yang bergelar Zhang Thien She menyebarkan ajaran Laozi dengan menambahkan ilmu gaib dan mempraktikkan mistik. Dalam ajaran-ajaran Laozi, Dao dipandang sebagai “sumber yang unik dari alam semesta dan menentukan semua hal; bahwa semua hal di dunia terdiri dari bagian yang positif dan bagian yang negatif; dan bahwa semua yang berlawanan selalu mengubah satu sama lain; dan bahwa orang tidak boleh melakukan tindakan yang tidak alami tetapi mengikuti hukum kodratnya.” Sikap pasrah terhadap hukum kodrat dan hukum alam ini disebut juga sebagai wu-wei. Mengenai Dao, terdapat perbedaan dasar antara filsafat Daoisme dan agama Daoisme juga terletak pemahaman tentang tujuan dari keberadaan manusia itu sendiri. Para filsuf Daois berpendapat bahwa tujuan setiap orang adalah mencapai transendensi spiritual. Oleh sebab itu, mereka perlu menekuni ajaran Dao secara konsisten. Sementara, para pemuka agama Daoisme berpendapat bahwa tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai keabadian, terutama keabadian tubuh fisik (physical immortality) yang dapat dicapai dengan hidup sehat, sehingga bisa berusia panjang. Pada titik ini, kedua ajaran Daoisme ini berbeda secara tajam. Para filsuf Daoisme berpendapat bahwa usia panjang itu tidaklah penting. “Hanya orang-orang yang tidak mencari kehidupan setelah mati”, demikian tulis Laozi didalam Dàodéjīng pada bagian ke-13, “yang lebih bijaksana di dalam memaknai hidup.”

Di dalam beberapa tulisannya, Chuang Tzu menyatakan, “Orang-orang benar pada masa kuno tidak mengetahui apapun tentang mencintai kehidupan, dan mereka juga tidak mengetahui apapun tentang membenci kematian.” Laozi juga menambahkan, “Hidup dan mati sudah ditakdirkan – sama konstannya dengan terjadinya malam dan subuh… manusia tidak dapat berbuat apapun tentangnya.” Jelaslah bahwa para filsuf besar Daoisme menyatakan bahwa orang tidaklah perlu untuk memilih antara kehidupan atau kematian. Alih-alih hidup di dalam keresahan di antara keduanya, orang harus melampaui perbedaan di antara keduanya. “Sikap transenden dari filsafat Daoisme terhadap hidup dan kematian”, demikian tulis Xiaogan, “…..adalah mengikuti alam dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak alamiah”. Sikap mengikuti alam ini disebut juga sebagai tzu-jan. Kontras dengan itu, Daoisme sebagai agama justru menekankan pentingnya keabadian jiwa sebagai prinsip utama.ini

Bersama Chuang Tzu, Laozi juga berpendapat bahwa masyarakat akan jauh lebih baik, jika semua bentuk aturan, moralitas, hukum, dan penguasa dihapuskan. Di sisi lain, para pemuka agama Daoisme sangat menghormati penguasa dan aturan-aturan Konfusianisme. “Orang-orang yang hendak memiliki keabadian”, demikian tulis Ko Hung (284-343 s/M), seorang pemuka agama Daoisme, “haruslah menempatkan kesetiaan kepada penguasa dan kesalehan yang tulus kepada orang tua mereka… sebagai prinsip dasar.” K’ou Ch’ien Chih, seorang pemuka agama Doaisme lainnya, juga berpendapat bahwa setiap orang haruslah mempelajari Konfusianisme, serta secara aktif membantu kaisar di dalam mengatur dunia.

 

2.2. Filsafat India

Filsafat India berpangkal pada keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Harmoni ini harus disadari supaya dunia tidak dialami sebagai tempat keterasingan, sebagai penjara. Seorang anak di India harus belajar bahwa ia karib dengan semua benda, dengan dunia sekelilingnya, bahwa ia harus menyambut air yang mengalir dalam sungai, tanah subur yang memberi makanan, dan matahari yang terbit. Orang India tidak belajar untuk menguasai dunia, melainkan untuk berteman dengan dunia.

Filsafat di India disebut anviksiki atau darsana, berlainan artinya dengan filsafat barat atau modern. Filsafat di India menyerupai ngelmu daripada ilmu, lebih mendekati  arti kata Philosophia yang semula, lebih merupakan ajaran hidup yang memaparkan bagaimana orang dapat mendapatkan kebahagiaan yang lebih kekal (Salam, 2008:206). Berlainan dengan filsafat Yunani yang pada umumnya bersifat obyektif, rasional dan teknis maka sikap orang India lebih subyektif, lebih mementingkan perasaan, penuh dengan rasa kesatuan dengan alam dunia yang mengelilinginya dan dengan hati terbuka menerima realitas ajaib yang mengatasi segala-galanya dan yang harus dihormati dengan korban-korban dan upacara upacara.

Filsafat India menjadi beberapa periode yaitu, zaman weda, zaman Nastika, zaman Budha.

 

2.2.1. Zaman Weda

Filsafat India berpangkal pada tulisan-tulisan kuno yang dikenal dengan nama Weda yang meliputi

  1. Samhita (Reg weda, Sama Weda, Yajur Weda, Atharwa Weda)
  2. Brahmana (1000-700 SM), buku ini berisi tentang kurban-kurban dan upacara-upacara.
  3. Aranyaka berisi tentang ajaran-ajaran rahasia.
  4. Upanisad (period eke 1700-600 SM)

Dalam tulisan ini terkandung benih dari berbagai alairan-aliran dan sistem-sistem. Misalnya, aliran animisme dan dinamisme, monotheisme (dalam prayapati-supreme of all beings visnakama = All creator). Khususnya pengertian Brahmana = yang mutlak, yang kekal. Atman = Jiwa dan kesatuan mereka (Tattyasi : Brahman = Atman).

            Dalam sejarah India selanjutnya ada dua aliran yang dibedakan menurut sikap mereka terhadap Weda ini yaitu :

a.       Nastika ( Na-asti = it is not) yang tidak menerima kekuasaan Weda dan tidak mendasarkan ajaran-ajarannya berdasarkan kitab weda. Aliran ini seperti Carvaka, Budhisma, Jainisme.

b.      Astika adalah aliran yang mendasarkan alirannya pada weda dan berpegang teguh padanya.

 

2.2.2 Zaman Nastika

           Pada zaman ini terdapat aliran yang tidak menerima kekuasaan weda diantaranya Carvaka, budhisme, jainisme.

 

 

 

a.      Carvaka

Pada zaman ini terdapat sebuah aliran yang bernama Carvaka. Aliran menganut kepercayaan tentang materialisme. Aliran ini menolak ajaran weda karena adanya jiwa, keabadian dan kebajikan semua berasal dari materi.

b.      Budha

Zaman ini terjadi pada 560-480 SM. Ajaran ini memiliki pandangan bahwa hidup adalah sengsara , sebab manusia terikat pada realitas (upadana-skandha) yang selalu mengalir karena adanya karma. (Salam, 2008:211). Manusia membebaskan diri dari kesengsaraan itu dengan jalan menyadari kesempurnaan itu. Maka dari itu dikemukakan ajaran Aryasata ( empat kebenaran) diantaranya ; Duka-Satya, Tresna-Satya, Nirodha-Satya, Marga-Satya. Ajaran budha ini bukanlah suasana agama, melainkan suatu cara membedakan diri dengan Tuhan.

Dalam perkembangan Budha mengajarkan ajarannya dengan memakai bahasa daerah. Dan ketika ajarannya dinyatakan dalam bahasa sansekerta, mulailah adanya perselisihan dengan kaum Brahmana, terutama tentang pengetahuan manusia, tentang kekhilafan, jiwa, logika. Bersamaan dengan itu terjadilah perpecahan dalam lingkungan Budha sendiri (± 400 SM), hingga terjadi aliran yang terkenal dan terbesar yaitu Himayana dan Mahayana..

c.       Jainisme

Aliran ini muncul bersamaan dengan Budhisme oleh Navahira atau Vardamana. Terutama mengenai pengatahuan dikemukakan ajaran relativisme dan idealisme, tak ada yang tetap, semua selalu berubah.

 

2.2.3 Zaman Sistem Brahma

Zaman inilah yang muncul ketika terjadi pertikaian dengan kaum Budhis.

  1. SAMKHYA (Samkhyakhyakarika) oleh Isvarakrsna (± 200 SM). Kapila meneruskan dan mengembangkan ajaran dualisme antara Purusa dan Prakrti, Atheistis: menolak Asvara (Tuhan).
  2. YOGA, oleh Patanyali (± 425) dalan ajarannya hamper sama dengan Samkhya (tentang jiwa, alam, kosmologi, tujuan akhir). Tapi bedanya Yoga mengakui adanya Asvara (Tuhan) yang berbeda dengan Atman = jiwa. Lebih banyak menerapkan latihan-latihan yang terkenal disebut yoga.
  3. NYAYA ajaran logika dan cara berdebat oleh Dautama (±225). Berpangkalan pada penafsiran dan penyelidikan tulisan-tulisan kuno ditentukan suatu cara berpikir (Nyaya)
  4. VAISESIKA pandangan-pandangan filsafat lanjutan dari Nyaya, dikiemukakan oleh Kanada (±125). Inipun merupakan ajaran pembebasan (liberation): kebahagiaan hanya dapat dicapai dengan pengatahuan.
  5. PURWA-MIMAMSA ini sebenarnya bukan sistem filsafat tetapi penafsiran-penafsiran teks-teks Weda untuk kepentingan kurban dan upacara-upacara.
  6. WEDANTA dalam filsafat India seringkali hanya aliran inilah yang dimaksudkan karena pengaruhnya yang sangat besar.
    1. Wedanta-sutra, karangan Budaryana (abad kelima) yang berisi tentang ajaran keagamaan tentang Brahman dengan syarat mutlak.
    2. Monisme dari Gaupada (abad ke-8) dengan karangannya Gaupadarika dan Sankara (788-820). Berisi tentang ajaran logika seperti yang dikembangkan Budhisme, ia menyempurnakan ajaran Gaupada. Ajarannya disebut kevakusdvaita. Brahman adalah satu-satunya kenyataan. Kesatuan antara Brahman dan Atman.
    3. Aliran Visnuisme, Realisme, Thestis

a.       Yamuna (918-1038) ajarannya tentang jiwa : pengalaman bahwa “aku mengerti” menyatakan adalah “aku” adalah subyek yang mandiri (jadi sama sekali melawan ajaran Budhisme)

b.      Ramanuja (1050-1137) meneruskan ajaran Yamuna. Aliran ini sangat besar pengaruhnya.

 

Kemudian sejak tahun 1200 pengaruh Islam mulai mempengaruhi filsafat India begitu juga pengaruh dari filsafat barat. Adapun reaksi dari orang India karena masuknya pengarug barat antara lain :

a.       Kembali ke Weda menolak segala pengaruh asing

b.      Menerima pikiran-pikiran baru tetapi dimasukkan dalam alam pikirnya, jadi tetap berpegang taguh pada tradisi lama.

Selain itu dengan banyaknya masuk pengaruh barat terutama dalam dunia pendidikan dan pengajaran maka banyak tradisi-tradisi lama yang hendak ditinggalkan dan mempelajari pengaruh barat. Akan tetapi dalam masyarakat jelata pengaruh Indi masih kuat.

 

2.3 Filsafat Arab

Pada masa kejayaannya, kaum Muslimin dengan tulus dan percaya diri telah menyerap berbagai ragam budaya lain sebagai hasil interaksinya dengan bangsa-bangsa bukan Arab, terutama setelah pembebasan (futuhat) daerah-daerah di sekeliling jazirah Arabia. Penduduk di kawasan-kawasan yang dibebaskan itu meliputi Spanyol di Barat sampai Persia di Timur. Mereka tidak dipaksa memeluk Islam, karena ajaran Islam melarang penyebaran agama secara paksa. Sebagian besar daerah itu memang kemudian mengalami Islamisasi, akan tetapi berlangsung dengan lambat dan dengan cara damai. Di bawah pemerintahan kaum Muslimin yang menganut toleransi agama yang tinggi, di semua kawasan selalu terdapat daerah-daerah yang dihuni oleh minoritas non muslim, terutama orang-orang Kristen dan Yahudi.

Abraham S. Halkin dalam bukunya The Judeo-Islamic Age, The Great Fusion mengakui dengan jujur bahwa orang-orang Arab, sekalipun menjadi pemenang secara militer dan politik akan tetapi tidak memandang peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan dengan sikap menghina. Kekayaan budaya-budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin ke dalam bahasa Arab segera setelah mereka temukan. Penerjemahan buku ke dalam bahasa Arab merupakan kebijaksanaan langsung dari para Khalifah dari dinasti Abasiyah. Dimulai oleh Khalifah Abu Jafar Al Manshur (754-774 M), program tersebut diteruskan oleh pengganti-penggantinya dan berpuncak pada masa pemerintahan Khalifah Ma’mun (813-833 M).

Buku-buku yang terlebih dahulu diterjemahkan ialah Logika, kemudian diikuti oleh Teologi, Etika dan Psikologi. Prioritas penerjemahan buku Logika didasarkan kepada dua hal. > Pertama, karena pada saat itu sering berlangsung perdebatan agama dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Untuk bahan perdebatan tersebut kaum Muslimin merasa perlu memahami Logika Yunani, agar argumentasi dapat disampaikan dengan sebaik-baiknya. > Kedua, karena banyaknya orang-orang Persia yang masuk Islam. Mereka ini sebelumnya telah mempelajari Filsafat Yunani terutama Logika. Dengan penyebaran filsafat Yunani ini maka terasa pengaruh cara berpikir mereka di kalangan cendekiawan Muslim pada saat itu, terutama di lingkungan para filosof dan juga ahli Ilmu Kalam. Pada waktu itu filsafat merupakan salah satu pengetahuan yang sama dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya seperti Kimia, Astronomi dan sebagainya, yang termasuk ilmu ‘umum’ (aqliyah) di luar ilmu ‘agama’ (naqliyah).

Buku-buku filsafat yang diterjemahkan cukup banyak. Di antaranya dan terutama adalah buku-buku karangan Plato, Aristoteles, dan buku-buku dari para filosof Neo Platonis terutama karangan Plotinus. Buku Plato mencakup pembicaraan tentang syarat-syarat pengetahuan yang benar, untuk membedakannya dengan pengetahuan yang salah, pembicaraan tentang fisika, tentang psikologi dan etika, dan tentang politik. Yang paling berpengaruh di kalangan filosof muslim adalah karangan Aristoteles, terutama Logika. Karena itu kemudian berkembang Ilmu Mathiq di kalangan kaum Muslimin, yang berdasarkan sylogisme ajaran filsuf Yunani ini; nama lengkap ilmu ini adalah Al Manthiq Al Aristhi. Di samping itu disebarluaskan pula buku-buku Aristoteles tentang fisika, etika, dan metafisika. Atas tulisan filosof ini banyak buku-buku yang dibuat oleh pengarang Muslim, baik yang berupa komentar, ulasan maupun kritik.

Meskipun sebenarnya filsafat adalah pengetahuan yang asing bagi bangsa Arab, tetapi ternyata diterima dengan baik pada abad-abad permulaan. Memang kemudian terjadi penolakan oleh ahli pikir Islam, namun itu baru pada abad ke-4 H (masa Imam Al Asy’ari), atau bahkan abad ke-5 H (masa Al Ghazali). Sedangkan penerjemahan buku-buku filsafat berlangsung sejak abad ke-3 atau sebelumnya. Dengan demikian lebih satu abad lamanya pikiran-pikiran Yunani berpengaruh besar kepada kaum Muslimin. Ini disebabkan karena buah pikiran Yunani tersebut, terutama Logika, dianggap sangat bagus bahkan cukup mengagumkan untuk membuka wawasan dan jalan berpikir untuk memahami berbagai pengetahuan baru, dan untuk menangkap kebenaran agama dengan nuansa yang seluas-luasnya.

Maka wajarlah bahwa yang paling berperan dalam pengembangan pikiran Yunani ini adalah kaum Mu’tazilah (mereka banyak mengandalkan akal pikiran dalam memahami agama), dan para filosof Islam. Meskipun kemudian para tokoh Mu’tazilah ternyata tidak mau masuk terlalu dalam di dunia filsafat karena anggapan bahwa tugas utama mereka adalah di bidang agama. Sehingga yang benar-benar berkecimpung di bidang ini adalah para filosuf.

Meskipun para filosof menaruh kekaguman kepada Plato, Aristoteles dan yang lain, pemikiran mereka itu tidak diterima mentah-mentah. Berbagai ulasan dan kritik dilontarkan terhadap kejanggalan-kejanggalan yang ada pada pemikiran filosof Yunani, terutama yang berkenaan dengan aqidah. Di antara kritik yang mashur adalah yang ditulis Al Farabi dengan judul Al Jam’u bainal Ra’yai al Hakimain (Perpaduan antara dua filosof; Plato dan Aristoteles).

Al Kindi Orang yang dianggap sebagai filosof Islam pertama nama aslinya adalah Abu Yusuf bin Ishak (806-873 M). Keturunan Arab asli ini adalah anak Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al Mahdi dan Harun Al Rasyid. Dia memperoleh kedudukan yang tinggi pada pemerintahan Al Ma’mun dan Ahmad, bahkan menjadi guru khalifah tersebut. Dengan sponsor Khalifah dia menjadi pelopor penerjemahkan buku-buku asing. Al Kindi dalam risalahnya mengemukakan kebaikan-kebaikan filsafat, untuk menjawab pandangan sebagian ulama yang mengganggap ilmu itu berasal dari orang-orang kafir dan hanya meluruskan jalan menuju kekufuran. Menurut Al Kindi filsafat justru merupakan ilmu yang tidak bisa ditinggalkan oleh setiap orang yang berpikir. Filsafat adalah ilmu untuk memahami sesuatu kebenaran menurut kemampuan manusia, yang mencakup ilmu Ketuhanan dan Keesaan (wahdaniyah), dan ilmu keutamaan (fadhilah). Dengan demikian filsafat mempelajari semua yang berguna dan cara memperolehnya. Jadi tujuan filsafat bersifat teori, yaitu memperoleh kebenaran, dan bersifat praktis yakni mewujudkan kebenaran itu dalam bentuk perbuatan. Semakin dekat seseorang kepada kebenaran, semakin dia mendekati kesempurnaan.

Meskipun tidak mempunyai sistem filsafat sendiri, dan karena itu tidak bisa disebut sebagai pendiri filsafat Islam, Al Kindi sangat berjasa dalam merintis masuknya filsafat dalam dunia Arab. Dia menggunakan istilah-istilah Arab untuk mengganti kata-kata Yunani dengan definisi yang ringkas tetapi tepat. Dia melakukan telaah dalam bidang Matematika, Fisika, Psikologi, dan Ketuhanan dengan berangkat dari pemikiran Yunani namun tetap mempertahankan kepribadian sendiri. Dia tidak sekedar meneruskan pemikiran Plato dan Aristoteles akan tetapi memilih yang sesuai dengan pemikiran dan keyakinan Islam.

Al Farabi (870 – 950 M). Orang yang dipandang sebagai pelopor Filsafat Islam adalah. Nama aslinya Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Ayahnya orang Iran dan ibunya orang Tukeshtan. Ketika remaja Al Farabi bermukim di Baghdad, pusat pemerintahan dan ilmu pengetahuan pada masa itu. Pernah berguru di Harran, pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil tetapi kemudian kembali ke Baghdad. Selama 30 tahun di kota itu dia mendalami, mengajar, menulis buku-buku, dan mengulas filsafat. Al Farabi telah mampu menciptakan mazhab filsafat yang khas, dan menjadi guru atau acuan bagi para filsuf yang kemudian seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Masyarakat menggelarinya ‘guru kedua’. Sedangkan yang dipandang sebagai ‘guru pertama’ adalah Aristoteles. Tulisan Al Farabi banyak diterjemahkan ke dalam bahasa lain, terutama Ibrani.
Sayang sekali karangan-karangan filsuf itu kebanyakan berupa makalah pendek sehingga tidak terlalu dikenal. Filsafat Al Farabi merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo Platonisme dengan pemikiran Islam dari aliran Syi’ah Imamiah. Dia sangat percaya kepada ketunggalan filsafat, karena baginya kebenaran itu satu. Perbedaan pendapat dan aliran hanyalah sesuatu yang nampak di permukaan. Sedangkan hakekat kebenaran hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Dengan pandangan dasar seperti itu dia selalu berusaha untuk memadukan aliran yang bermacam-macam itu. Bahkan dia berusaha mempertemukan filsafat yang merupakan buah pikiran manusia itu dengan wahyu. Apabila wahyu tidak bisa dipahami dengan akal (yang dikembangkan dengan filsafat), maka dia memaknai wahyu tersebut dengan ta’wil (tidak dengan makna harfiah atau yang tersurat akan tetapi dengan makna yang tersirat).

Ibnu Sina (980-1037 M). Dia dilahirkan dan dibesarkan di Bukhara. Pada masa kecilnya ia belajar Al Qur’an dan Astronomi, kemudian Matematika, Fisika, Logika dan Metafisika. Sesudah itu memperlajari ilmu kedokteran sehingga dikenal sebagai seorang dokter yang pandai. Karena keberhasilannya menyembuhkan para penguasa negeri, Ibnu Sina berkesempatan mempelajari ilmu di perpustakaan-perpustakaan yang tertutup bagi orang kebanyakan. Dalam masa hidup yang singkat, dan di tengah kesibukan berpolitik yang padat, Ibnu Sina ternyata berhasil menulis buku-buku yang sangat bagus. Di antaranya yang paling terkenal adalah Asy Syifa. Buku ini terdiri atas uraian tentang Logika, Fisika, Matematika, dan Metafisika. Di samping itu dia juga menulis Al Qonun tentang ilmu kedokteran, dan buku filsafat yang terakhir Al Isyarat wal Tanbihat. Buku-buku Ibnu Sina sangat terkenal dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Bahkan Al Qonun menjadi buku rujukan universitas-universitas di Eropa sampai dengan akhir abad ke-17.

Al Ghazali (1058-1111 M) masa kegemilangan Filsafat Islam mengalami penurunan yang tajam ketika muncul pemikir besar. Dia dilahirkan di Gazalah, dekat kota Tus yang waktu itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam. Pendidikannya dimulai dengan belajar Al Qur’an kepada ayahnya sendiri, kemudian kepada beberapa guru yang di antaranya adalah para Sufi besar. Lapangan ilmu yang didalaminya cukup luas yakni Ilmu Fiqh, Ilmu Kalam, Manthiq, Filsafat, dan Tasauf. Pada masa pematangannya dia belajar di Madrasah Nizamiyah di Nisabur, yang dipimpin oleh ulama besar Al Haramain Al Juwaini, seorang penganut Asy’ariyah. Al Ghazali kemudian menggantikan tugas gurunya tersebut. Lebih dari 100 buku yang telah ditulisnya, meliputi berbagai bidang ilmu. Di antaranya yang sangat terkenal adalah Ihya ‘Ulumuddin dan Al Munqidz min ad Dholal, yang membicarakan aneka masalah keagamaan. Dalam bidang filsafat dia menulis dua buku yakni Maqosid al Falasifah (Tujuan para Filsuf), dan Tahafut al Falasifah. (Kesalahan para Filsuf). Buku-buku ini melancarkan kritik yang keras terhadap filsafat dan para filosof. Al Ghazali memang pernah mengalami keraguan yang besar dalam hati karena syak terhadap apa yang telah dipelajarinya. Dia mulai tak percaya kepada pengetahuan inderawi karena ternyata bahwa indera itu sering kali salah. Kemudian dia mencoba mempercayai akal akan tetapi ternyata akal juga sering keliru. Kemudian dia menempuh jalan tasauf untuk memperoleh kebenaran dan jalan inilah yang bagi Al Ghazali mendatangkan kepuasan sejati. Proses itu ditulisnya dalam Al Munqidz min ad Dholal. Terhadap filsafat dia menyatakan penolakan yang keras. Pemikirannya itu dituangkan dalam Maqosid al Falasifah, kemudian ditegaskannya lagi dalam Tahafut al Falasifah. Al Ghazali mengemukakan sepuluh kesalahan falsafah, tiga di antaranya dianggapnya sebagai pembawa kekufuran.

Tiga hal tersebut adalah pendapat bahwa alam ini qadim (terdahulu, tidak berawal), bahwa Tuhan tidak mengetahui rincian-rincian, dan bahwa kebangkitan di hari Kiamat nanti hanyalah kebangkitan ruh, tidak ada kebangkitan jasmani. Pada pokoknya Al Ghazali berpendapat bahwa pikiran-pikiran tersebut menyesatkan, karena umat akan mengecilkan arti Tuhan, yang sama qadim-nya dengan alam, yang tidak mengetahui hal-hal yang rinci. Selain itu menurut Al Ghazali, pendapat itu jelas bertentangan dengan nash Al Qur’an.

Karena kritik-kritiknya yang pedas terhadap filsafat, maka orang berbeda pendapat tentang apakah Al Ghazali seorang filsuf atau bukan. Namun faktanya ialah Al Ghazali tetap menggunakan logika dan cara berfikir filsafat untuk menyerang apa yang disebutnya sebagai sepuluh kesalahan filsafat. Dia juga tetap menggunakan berbagai argumen filsafat untuk masalah keagamaan lainnya. Pengaruh Al Ghazali ternyata sangat besar di kalangan ummat Islam, dan tetap terasa sampai sekarang. Keterangannya yang disertai argumen logis dan mudah dimengerti, menjadikan pemikirannya sangat populer sampai ke lapisan awam. Para pemikir generasi sesudahnya banyak mengritik Al Ghazali sebagai penyebab kemunduran Islam, karena dia telah menciptakan suasana anti filsafat, yang berarti menolak berpikir secara mendalam. Akan tetapi para pendukungnya menyatakan bahwa Al Ghazali hidup justru di tengah kelesuan yang diakibatkan karena orang tidak lagi menghayati jiwa ajaran Islam. Orang disibukkan hanya untuk melakukan ibadah ritual tanpa memahami maknanya, atau disibukkan oleh pertentangan pendapat yang tidak ada habis-habisnya tentang masalah yang tidak ada nilai kegunaannya. Oleh karena itulah dia bekerja keras untuk menghidupkan kembali semangat Islam, antara lain melalui bukunya Ihya ‘Ulumuddin.

Ibnu Rusyd (1261-1198 M) kritik Al Ghazali terhadap filsafat tentu saja tidak diterima dengan suka rela oleh para filsuf. Serangan balik dilakukan terutama oleh Ibnu Rusyd. Filsuf ini bernama asli Abdul Walid Muhammad bin Ahmad ibnu Rusyd. Dia dilahirkan di Cordova dari keluarga hakim yang mempunyai kedudukan tinggi. Pada mulanya dia memperoleh kedudukan yang baik pula di bawah Khalifah Abu Yusuf Al Manshur, bahkan dianggap sebagai ‘Raja Segala Pikiran’ karena pendapatnya diikuti oleh semua orang. Akan tetapi kemudian dia dipenjarakan sebagai akibat fitnah yang dilancarkan orang-orang yang tidak suka filsafat. Karena pembelaan para penganutnya dia kemudian dibebaskan tetapi tidak lama kemudian terkena fitnah lagi dan diasingkan ke Maroko.

Filsuf ini merupakan pengagum Aristoteles dan dikenal sebagai pengulas Aristoteles yang paling terkemuka. Hasil karyanya yang membela filsafat antara lain Tahafut al Tahafut yang menguraikan kesalahan Al Ghazali dalam bukunya Tahafut al Falasifah. Bukunya yang lain Bidayatul Mujtahid mempunyai nilai sangat tinggi di bidang Ilmu Fiqh. Pada masa Ibnu Rusyd ini pemikiran-pemikiran Aristoteles ‘dimurnikan’ dari pengaruh Neo Platonisme dan memperoleh penerimaan yang paling baik di kalangan cendekiawan Islam. Akan tetapi setelah itu kemudian merosot bersamaan dengan merosotnya pengaruh filsafat, dan untuk masa yang sangat panjang tidak bangkit kembali.

 

3. SIFAT-SIFAT FILSAFAT CINA, INDIA DAN ARAB

3.1 filsafat Cina

            Yang menjadi pusat perhatian dalam filsafat Cina yaitu kelakuan manusia, sikapnya terhadap dunia yang mengelilinginya dan sesama manusianya.

Filsafat cina: bagi filsuf-filsuf cina manusia dan dunia merupakan satu kesatuan, satu “kosmos”, kesatuan mana tak boleh diganggu oleh perbuatan-perbuatan manusia yang tidak selayaknya. Hanya kalau tata dan kesatuan yang ada itu tetap terpelihara, semua orang akan selamat. Maka yang ditinjau oleh filsuf-filsuf cina ialah: bagaimanakah sikap orang terhadap dunia, terhadap sesamanya manusia dan terhadap “Surga” agar manusia tetap dalam hubungan yang harmonis dengan dunia, manusia dan “Surga” . Itulah yang mereka lebih titik beratkan. Pengetahuan tidaklah dikejar “asal mengetahui saja” melainkan untuk diterapkan pada kelakuan manusia. Cita-cita mereka tak lain daripada menjadi “the inner Sage” artinya orang orang yang telah membentuk kebajikan dalam dirinya sendiri yang “bijaksana”  betul-betul maka yang yang dititikberatkan ialah:

1)            Etika, bukanlah Logika atau Metafisika.

2)            Sistem-sistem filsafat dalam arti normal hampir-hampir tak ada, akan tetapi ini tak berarti bahwa de facto tidak ada sistem-sistem dalam arti “organic unity of ideas” (seperti halnya pada Socrates dan juga Plato).

3)            Walaupun nampaknya dalam filsafat cina hampir tak ada kemajuan dan perkembangan akan tetapi para “penafsir” juga mengemukakan buah-buah pikirannya sendiri, hingga apa yang dulu-dulunya masih terkandung dalam sistem-sistem lama berupa “benih”, lama kelamaan menjadi lebih nampak.

 

3.2 Filsafat India

Filsafat di India disebut anviksiki atau darsana, berlainan artinya dengan filsafat barat atau modern. Filsafat di India menyerupai ngelmu daripada ilmu, lebih mendekati  arti kata Philosophia yang semula, lebih merupakan ajaran hidup yang memaparkan bagaimana orang dapat mendapatkan kebahagiaan yang lebih kekal (Salam, 2008:206). Berlainan dengan filsafat Yunani yang pada umumnya bersifat obyektif, rasional dan teknis maka sikap orang India lebih subyektif, lebih mementingkan perasaan, penuh dengan rasa kesatuan dengan alam dunia yang mengelilinginya dan dengan hati terbuka menerima realitas ajaib yang mengatasi segala-galanya dan yang harus dihormati dengan korban-korban dan upacara upacara. Perhatian terhadap manusia juga lain: tidaklah manusia dipandang sebagai “ ukuran dan norma segala-galanya”, melainkan manusia dipandang sebagai terikat oleh dunia kebendaan dari man ia harus membebaskan diri untuk memcapai kebahagiaan. Alam pikiran India boleh dikatakan “magis religius” dan          dalam suasana ini filsafat berkembang, tidaklah sebagai suatu ilmu tersendirimelainkan sebagai suatu faktor penting dalam usaha pembebasan diri itu.

Hal lain yang juga penting ialah: bahwa pendapat-pendapat religius itu telah lama ditulis (Veda) bahwa semua sumber merupakan pangkalan dan dasar daripada  renungan-renungan yang berupa tafsiran-tafsiran dan keterangan-keterangan.

Maka sifat-sifat khusus yang membedakan antara filsafat India dan filsafat yunani yaitu:

1)            Suasana dan bakat orang India yang berlainan dengan bakat orang-orang yunani ( seperti misalnya dalam bahasa mereka).

2)            Seluruh pengetahuan dan filsafat diabdikan kepada usaha pembebasan atau penebuasan.

3)            Berpangkal pada buku-buku kuno (Veda) yang kekuasaannya tak dapat diganggu gugat, hanya dapat ditafsirkan dan diterangkan lebih lanjut.

4)            Perumusan-perumusan umumnya kurang tajam, tidak tegas membeda-bedakan antara sifat diri : konkrit-abstrak, hidup tak hidup, kesatuan persamaan, sebab,                   alasan. Hal ini mengakibatkan seluruh filsafat India mendapat sifat samara yang mempersukar pemecahan besar. Karena pengaruh maha-besar dari tulisan-tulisan kuno itu, maka sistem-sistem filsafat sering sukar dibedakan corak-coraknya yang khusus, sering sukar juga untuk mengikuti jalan pikiran dan mencapai sintesis.

5)            Berhubungan dengan itu nampak juga keuatan asimilasi yang sangat besar, hingga unsure-unsur yang bertentangan satu sama lain dimasukaan dalam satu sistem : “syncretrisme”.

6)            Dalam semua sistem ditemukan sejumlah penegertian yang tidak timbul dari pandangan filsafat, melainkan yang merupakan warisan dari zaman kuno dan yang memegang peran penting dalam semua sistem itu (kecuali dalam Carvaka), misalnya : karena dengan dan kelahirtan kembali, mukti, samsara, atman, dan brahmana. Demikian pula prinsip-prinsip etika (menguasai diri, hormat terhadap hidup dan sebagainya).

 

3.3 Filsafat Arab

Proses sejarah masa lalu, tidak dapat dielakkan begitu saja bahwa pemikiran filsafat Arab terpengaruh oleh filsafat Yunani. Para filosuf Arab banyak mengambil pemikiran Aristoteles dan mereka banyak tertarik terhadap pemikiran-pemikiran Platinus. Sehingga banyak teori-teori filosuf Yunani diambil oleh filsuf Islam. Demikian keadaan orang yang dapat kemudian. Kedatangan para filosuf Arab yang terpengaruh oleh orang-orang sebelumnya, dan berguru kepada filsuf Yunani. Bahkan kita yang hidup pada abad ke-20 ini, banyak yang berhutang budi kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Akan tetap berguru tidak berarti mengekor dan mengutip, sehingga dapat dikatakan bahwa filsafat Islam itu hanya kutipan semata-mata dari Aristoteles, berikut adalah ciri khusus filsafat Arab :

  1. Banyak terpengaruh oleh pandangan-pandangan filsuf Yunani seperti Aristotales dan Plato akan tetapi para filsuf Arab mampu megembangkan pemikiran-pemikiran itu sehingga menemukan pemikiran baru. Pemikiran ini kemudian diakui oleh para teolog-teolog Barat.
  2. Walaupun terpengaruh pandangan neoplatonisme, dalam sistem kepercayaan filsafat Arab adalah Monoteistik sedangakn filsafat Yunani adalah politeisme.
  3. Objek ajarannya adalah Tuhan
  4. Filsafat Islam dibentuk dengan prinsip-prinsip agama dan terpengaruh oleh keadaan lingkungan masyarakat islam itu sendiri.

 

4. Perbedaan Filsafat Cina, India Dan Arab

 

No

Filsafat Cina

Filsafat India

Filsafat Arab

1

Lebih mengutamakan etika

Subyektif lebih mengutamakan perasaan

Obyektif karena mengadopsi filsafat Yunani

2

Filsasfatnya berpangkal pada buku-buku kuno (veda) yang tidak dapat ditentang kebenarannya.

Filsafat asli para filsuf cina yang ajarannya tentang kesatuan alam dengan manusia.

Filsafatnya banyak terpengaruh  oleh pemikiran Yunani akan tetapi selanjutnya ada pengembangan yang akhirnya melahirkan pemikiran baru.

3

Ilmu pengetahuan dalam pandangan filsafat India adalah untuk pembebasan diri (liberation)

Tidak terlalu mengejar pengetahuan akan tetapi diterapkan dalam kelakuan

Mengembangkan ilmu pengetahuan (aljabar, algoritma, trigonometri, table, sinus, cosinus, dll)

 

4

Sangat berbeda dengan filsafat barat.

Sangat berbeda dengan filsafat barat

Banyak kemiripan dengan filsafat barat.           

5

Sifat filsafatnya adalah magis religius

Sifat filsafatnya adalah menjaga hubungan manusia dengan alam

Sifat filsafatnya adalah obyektif

 

 

5.  Persamaan Filsafat Cina, India Dan Arab

No

Filsafat Cina

Filsafat India

Filsafat Arab

1

Tujuan akhir adalah mencapai surga

Tujuan akhirnya adalah mencapai pembebasab (surga)

Mencapai surga

2

Ilmu pengetahuan tidak diutamakan, hanya membentuk kelakuan yang baik

Ilmu pengetahuan tidak dikembangkan untuk kemajuan tetapi hanya untuk mencapai kebebasan

-

3

Sedikit terkena pengaruh filsafat barat

Sedikit terkena pengaruh filsafat barat

-

 

6. REFLEKSI FILSAFAT CINA, INDIA DAN ARAB.

            Filsafat cina lebih mengutamakan pada keselarasan hubungan manusia dengan alam dan menjaga tingkah laku manusia. Filsafat India lebih mengutamakan pada pembebasan untuk mencapai surga yang tentu saja harus dijalani dengan berbuat dan bertingkah laku yang baik untuk mencapai surga itu sendiri. Sedangkan filsafat Arab lebih banyak mengadopsi ajaran-ajaran filsafat Yunani yang menuntut untuk lebih berfikir obyektif.

            Jadi ada hal yang mesti kita petik dari pemikiran ketiga filsafat diatas adalah keseimbangan. Keseimbangan dengan menjaga hubungan baik dengan Tuhan, keseimbangan antara manusia dengan manusia dan keseimbangan manusia dengan alam. Dengan terwujudnya hal itu maka jalan akhir dengan yaitu surga akan dapat tercapai. Selain itu ketika menjalani hidup kita perlu mengembangkan pengetahuan untuk menciptakan pemikiran-pemikiran baru demi kemajuan peradaban umat manusia.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Abubakar Aceh. 1982. Sejarah Filsafat Islam. Ramadhan Sala

 

Abu Hanifah. 1950. Rintisan Filsafat. Jakarta.

 

Bakker. JWM. 1978. Sejarah Filsafat islam. Kanisius: Yogyakarta.

 

Bertens, K. 1976. Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius: Yogyakarta.

 

Jujun, S Suriasumantri. 1982. Ilmu Dalam Perspektif. PT. Gramedia: Jakarta.

 

Salam, Burhanuddin. 2008. Pengantar Filsafat. Bumi Aksara: Jakarta

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s